Komitmen Star Energy untuk Konservasi dan Restorasi Lingkungan - KEHATI
Artikel

Komitmen Star Energy untuk Konservasi dan Restorasi Lingkungan

22 Maret 2019

PT Barito Pacific Tbk, melalui anak perusahaannya, Star Energy memiliki keyakinan mengelola sumber daya alam dapat dilakukan secara berdampingan dengan upaya konservasi lingkungan.

Sebagai induk perusahaan, Barito Pacific memiliki kebijakan tiga pilar keberlanjutan, yaitu konservasi alam, pendidikan dan circular economy.

Komitmen konservasi alam direalisasikan perusahaan antara lain, dengan menginisiasi program pengembangan dan kemitraan bersama masyarakat untuk melindungi lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Hal itu membuat anak usaha­nya, Star Energy Geothermal Salak Ltd (SEGS) menerima penghargaan dari Center for Entrepreneurship, Change & Third Sector (CECT) Universitas Trisakti, Jakarta. Penghargaan yang dimenangkan SEGS untuk kategori Project-Based CSR & Sustainable Inclusive Business (Non-Publicly Listed Companies).

Pada kategori tersebut, SEGS memperoleh penghargaan sebagai Community-Based Environmental Guardian atas program perlindungan lingkungan melalui kegiatan corporate social responsibility (CSR) di area operasi Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Gunung  Salak, Sukabumi, Jawa Barat.

Melalui penilaian ketat dari dewan juri yang terdiri atas para pakar dan praktisi bisnis dan CSR, program Green Corridor Initiative (GCI) yang dilaksanakan SEGS dinilai telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya konservasi dan preservasi lingkungan dan keanekaragaman hayati di kawasan hutan Gunung Halimun Salak.

Kawasan hutan gunung Ha­limun-Salak ialah hutan hujan tropis terbesar di Pulau Jawa. Dengan luas lebih dari 113.357 hektare, ribuan spesies flora dan fauna hidup di kawasan ini pada sejumlah ekosistem yang berbeda, mulai hutan di dataran rendah, lembah, dataran tinggi, sampai lumut Elfin.

Kawasan tersebut juga merupakan tempat tinggal tiga spesies fauna langka, yang semuanya terancam punah, yaitu elang jawa (Nisaetus bartelsi), macan tutul (Panthera pardus melas), dan owa jawa (Hylobates moloch).

Habitat hutan koridor yang menghubungkan kedua hutan hujan tropis Gunung Salak dan Gunung Halimun yang dilindungi, mewakili dukungan besar yang diberikan bagi ekosistem di kedua hutan tropis tersebut. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, kawasan juga merupakan sumber mata air penting yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat dan penduduk perkotaan di sekitar wilayah tersebut.

Namun, belakangan kualitas lingkungan kawasan ini terancam kegiatan penebangan pohon dan penyerobotan lahan hutan yang cukup masif.

Untuk itu, program GCI yang didukung SEGS memiliki tujuan merestorasi zona ekologi kritis di kawasan koridor Taman Nasional Gunung Halimun dan Salak agar dapat mendukung keberlanjutan migrasi binatang dan habitatnya.

Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat, baik dalam aktivitas restorasi maupun perlin­dungan koridor hutan. Selain itu, program tersebut juga untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat melalui program pemberdayaan ekonomi yang mendukung konservasi.

Ada tiga kegiatan utama dalam program ini, yakni restorasi habitat sekitar 270 ha, pemberdayaan masyarakat lebih dari 100 kepala keluarga (KK) dan kampanye sosial terintegrasi meliputi penerbitan buku Taman Nasional Gunung Halimun Salak, aktivitas sukarelawan, dan publikasi di media lokal dan nasional untuk mendukung upaya keberlanjutan dan konservasi.

Kegiatan yang dilakukan, antara lain bekerjasama dengan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dan jaringan kemitraan Suaka Elang, membentuk Suaka Elang untuk spesies elang jawa (Nisaetus bartelsi), yang terdaftar sebagai spesies yang terancam keberadaannya. Pembentukan Suaka Elang ini merupakan langkah awal dari pembentukan jaringan profesional multipihak dalam mendukung upaya pendidikan, penelitian, dan konservasi untuk burung elang dan habitatnya.

Program ini juga meliputi upaya sosialisasi kesadaran masyarakat akan pentingnya keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Hali­mun Salak.

Pada 2019-2020, dirancang program lanjutan kegiatan restorasi hutan sekitar 130 ha yang mengikutsertakan lebih dari 100 KK dalam menjaga restorasi hutan koridor termasuk meningkatkan pendapatan dari aktivitas pertanian ramah lingkungan di luar kawasan hutan konservasi.

Hutan Papandayan

Perusahaan yang juga memiliki operasi PLTP Darajat yang dikelola Star Energy Geothermal Darajat II, Limited (SEGD II), bersama Perhutani dan BBKSDA Jabar juga memiliki program di area sekitar kawas­an hutan Papandayan.

Terkait hal itu, Star Energy, Yayasan KEHATI dan KPH Ga­rut melakukan penandatangan program kemitraan lingkung­an di Kantor KPH Garut, Jawa Barat, pada Rabu (30/1).

Coordinator Social Performance Star Energy Dali Mulia, Administratur Perum Perhutani/KPH Garut Nugraha, dan Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos (kiri-kanan) menandatangani perjanjian program kemitraan lingkungan untuk periode 2 tahun di kantor KPH Garut, Jawa Barat (30/1). (Foto: KEHATI)

Program tersebut mencakup Kawasan Taman Wisata Alam dan Hutan Lindung Papandayan/Darajat di Kabupaten Garut. Dalam pelaksanaannya, KEHATI akan berkoordinasi dengan beberapa pemangku kepentingan yang antara lain BBKSDA Jawa Barat, BP DAS, LMDH, Muspida, Muspika, LSM lokal dan pesantren. Beberapa tujuan program tersebut ialah melakukan konservasi hutan, pemberdayaan masyarakat melalui program pertanian agroforestry ramah ling­ku­ng­an, dan pemantauan satwa kunci seperti macan tutul, owa jawa dan beberapa satwa endemik lain.

Penyelamatan elang jawa dianggap perlu karena dianggap sebagai pengejawantahan burung garuda (lambang negara).

Di area ini, SEGD II mendukung program restorasi hutan dengan mengajak masyarakat turut serta dalam pelestarian alam dan lingkungan yang disertai dengan program pemberdayaan masyarakat.

Beberapa tahapan kegiatan restorasi yang dilakukan dalam program ini antara lain, yaitu restorasi dilakukan di kawasan hutan lindung dan konservasi Papandayan, seluas 100 hektare dengan 60 ribu bibit alami. Untuk itu, dilakukan kegiatan pelatihan pembibitan dan pemilihan bibit, pembibitan, serta penanaman dan perawatan termasuk penyulaman.

Sementara itu, untuk mendukung keanekaragaman hayati di kawasan ini, SEGD II melakukan kegiatan monitoring satwa dengan memasang beberapa camera trap di beberapa lokasi yang diperkirakan sebagai lintasan dan atau daerah jelajah.

Rangkaian program perlindungan tersebut dilakukan selaras dengan pengelolaan operasi panas bumi oleh Star Energy. Komitmen menjaga keberlangsungan lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasi perusahaan untuk senantiasa menjaga keberlangsungan operasi dan kelestarian lingkungan pada saat yang sama.

Sumber: http://mediaindonesia.com/read/detail/224518-komitmen-star-energy-untuk-konservasi-dan-restorasi-lingkungan

  • Artikel
  • Komitmen Star Energy untuk Konservasi dan Restorasi Lingkungan
dukung kehati