Go Green School
| Tentang GGS Konsep Sekolah Hijau Kompetisi GGS Kalender kegiatan |
Kegiatan Penunjang Press Release Publikasi media Pelatihan dan pertemuan Download info |
| Aktifitas SMAN 13 SMAN 69 SMK Al –Muslim SMK Wikrama |
Profil Tim Perumus Tim Juri Penyelenggara |
Tema GGS: “Pengelolaan Lingkungan Terpadu oleh Warga SMA 13 dan Masyarakat melalui 3R dan Pembudidayaan Toga Anti Nyamuk”
Tujuan Penerapan GGS:
- Terbangunnya kepedulian lingkungan dari warga SMA 13
- Terbangunnya sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi di SMA 13
- Meningkatnya peran dan keberadaan SMA 13 bagi masyarakat dalam menangani persoalan lingkungan
Program-program GGS yang dilaksanakan:
1. Penguatan Kelompok GS (Green School)
Green school adalah sekelompok siswa SMA 13 yang peduli terhadap lingkungan. Green School SMA 13 menjadi kelompok ekstra kurikuler sejak Juli 2005, walaupun sebenarnya sudah aktif dari tahun 2003, dan harus diakui telah menjadi salah satu trademark bagi SMA 13. Saat ini Green School terdiri dari 22 anggota aktif. Kegiatan yang sudah dilakukan dan sangat menonjol ialah yaitu penggunaan kembali (re-use) dari sampah plastik menjadi produk-produk siap pakai (seperti tas, dompet, tempat pensil, kartu ucapan, kantong alat mandi, dll.).
Anggota Green School telah dibekali wawasan dengan mengikuti pelatihan dasar peduli lingkungan. Selain itu, Green School juga pernah melaksanakan seminar lingkungan di sekolah, dan pameran di dalam dan di luar sekolah. Akibat aktifnya para anggota Green School dalam mengubah sampah plastik menjadi produk-produk siap pakai, dan aktifnya mereka mengikuti pameran-pameran, maka Green School menjadi cukup terkenal dan telah sering diwawancarai oleh berbagai media.
2. Pengelolaan Sampah Sekolah
Sampah yang diproduksi oleh warga SMA 13 terdiri dari sampah kertas (dari Tata Usaha Sekolah), sampah plastik, kaleng minuman, daun-daun, dan sampah basah. Jenis sampah yang saat ini dikelola adalah sampah plastik , sampah kertas, dan sampah daun.
Sampah kertas didaur ulang antara lain menjadi kertas surat, sampah organik diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah plastik diubah menjadi produk-produk yang bermanfaat seperti, tas, dompet, sajadah, tempat pensil, jas hujan, dll. Dari keseluruhan pengelolaan sampah sekolah, maka pengelolaan sampah plastik ini yang paling berkembang dan digemari oleh siswa SMA 13, khususnya bagi Green School .
3. Pembudidayaan Tanaman Obat
Tanaman obat yang dibudidayakan yaitu Toga (tanaman obat) pengusir nyamuk. Pilihan ini dengan mempertimbankan bahwa populasi nyamuk di sekitar sekolah cukup tinggi sehingga kasus DBD cukup tinggi. Toga yang ditanam ialah Lavender, Geranyum, Zodia, dan Rosemary. Melalui kegiatan riset Toga Anti Nyamuk (Eksperimen) dihasilkan satu karya tulis yang berhasil memenangkan Lomba Penelitian se-Jakarta Utara (Juara I Bid. IPA) dan Juara Harapan II tingkat DKI Jakarta (Disorda). Melalui riset plastik diperoleh Juara I Lomba penelitian se-Jakarta Utara dan Juara II tk. DKI Jakarta (2006).
Lahan yang digunakan merupakan lahan di dalam kawasan sekolah yang, tepatnya di samping kelas. Para siswa yang menanam dan merawat Toga ini ialah siswa yang juga tergabung ke dalam ekstra kurikuler Green School.
4. Pengintegrasian Isu Lingkungan Ke Dalam Mata Pelajaran / Kegiatan Pembelajaran
Untuk menanamkan kesadaran melestarikan lingkungan kepada siswa akan efektif jika melalui mata pelajaran atau kegiatan pembelajaran. Dengan berkembangnya wacana, maka SMA 13 kemudian memutuskan untuk menyusun sebuah muatan lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu SMA 13 kemudian menyelenggarakan sebuah lokakarya penyusunan muatan lokal yang melibatkan para guru dan siswa untuk menerima masukan dari mereka akan topik-topik untuk isi muatan lokal yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saat ini. Muatan lokal yang disusun ialah untuk tahun ajaran 2007, oleh karena itu, hingga saat ini proses penyusunan materi dan isu untuk muatan lokal masih dalam proses pengerjaan.
5. Kampanye Lingkungan
Sebagai kelompok yang peduli lingkungan, Green School menganggap penting untuk mulai mengampanyekan isu-isu lingkungan. Kegiatan kampanye ini bermaksud untuk menyebarkan benih kesadaran lingkungan kepada berbagai khalayak di luar Green School baik di lingkungan SMA 13 maupun di luar sekolah.
Beberapa kegiatan kampanye yang telah berhasil dilakukan oleh Green School ialah:
Pembuatan film tentang daur ulang sampah
Hadirnya film ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran betapa pentingnya perilaku menghemat dan memanfaatkan kembali barang-barang yang tak terpakai, serta sebagai panduan visual mendaur ulang sampah. Isi film terdiri atas 3 bagian, yakni cara daur ulang sampah organik menjadi kompos, cara daur ulang kertas menjadi kertas surat, dan cara membuat produk-produk siap dari bekas sampah plastik.
Penyelenggaraan lomba kreativitas daur ulang tingkat SMP se-DKI Jakarta
Lomba ini diikuti oleh siswa-siswa SMP di yang berada di wilayah Jakarta, dan bertujuan untuk menggerakkan para siswa SMP untuk dapat turut serta mengurangi sampah, dengan cara mendaur-ulang kembali, atau dengan menggunakannya kembali (mengubahnya menjadi produk siap pakai).
Valentine Lingkungan
Acara ini tentu saja akan diadakan dalam rangka memperingati hari Valentine yang selalu menarik hati para pelajar. Kegiatan yang dilakukan untuk memperingati Valentine Lingkungan, yaitu berkunjung ke SDN Percontohan 07 Kelapa Gading. Ketika kunjungan dilakukan sosialisasi atau presentasi tentang pentingnya mendaur ulang sampah yang ada. Pada acara ini para anggota Green School mendemokan cara membuat kertas surat dari kertas bekas ke para siswa SD tersebut.
Faktor Pendukung Pelaksanaan GGS di SMA 13
- SMAN 13 Jakarta telah memulai kegiatan pengelolaan sampah (terutama penggunaan kembali sampah plastik) terlebih dahulu sebelum Program GGS ini dijalankan, sehingga telah memiliki banyak pengalaman
- Memiliki para siswa yang aktif, kreatif, inovatif dan mau bekerja keras
- Dana yang memadai
Kendala Pelaksanaan GGS di SMA 13
- Waktu pelaksanaan program yang singkat.
- Terbatasnya sumber daya manusia untuk melaksanakan Program GGS (baik guru maupun siswa).
- Kesulitan menghitung perkiraan pembiayaan suatu kegiatan secara tepat.
- Green School yang kemudian dicanangkan sebagai sebuah ekstra kurikuler membuat jangkauan atau dampak positif yang ditimbulkan melalui kegiatan-kegiatannya menjadi terbatas
SMA Negeri 69, Kepulauan Seribu
Tema GGS: “Pengelolaan Lingkungan Terpadu di Kepulauan Seribu melalui Model Pembelajaran Berbawasan Lingkungan di SMA 69”
SMA 69 merupakan satu-satunya SMA yang berada di wilayah Kepulauan Seribu, tepatnya berlokasi di Pulau Pramuka. Keunikan ekosistem pesisir yang mengelilingi SMA ini (adanya vegetasi mangrove, ekosistem lamun, dan ekosistem terumbu karang), menjadikannya strategis untuk mengembangkan program-program penelitian dan pelestarian lingkungan pesisir dan laut.
Program GGS yang diterapkan oleh SMA 69 ini lebih mengarah kepada riset kelautan dan pembekalan pengetahuan dan ketrampilan bagi siswa untuk dapat melestarikan sumberdaya alam di wilayah pesisir. Termasuk di dalamnya menanamkan konsep ramah lingkungan terhadap alam di sekitarnya, sehingga praktek-praktek pemanfaatan ekosistem pesisir diarahkan kepada yang tidak merusak, dan diharapkan dapat menjamin keberlangsungan sumberdaya alam yang ada untuk masa depan.
Tujuan Penerapan GGS:
- SMAN 69 menjadi tempat belajar praktek pengelolaan sumber daya pesisir dan laut
- SMAN 69 menjadi tempat belajar yang sehat, nyaman dan indah
- Adanya wadah kreativitas ilmiah siswa dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang dapat meningkatkan prestasi dan prestise SMA 69
Program-program GGS yang dilaksanakan:
1. Pengembangan Modul Pembelajaran “Sumber Daya Pesisir dan Laut”
Sebagai warga masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan, sudah sewajarnya para siswa di SMA 69 mendapatkan bekal yang cukup untuk mengenali potensi laut yang mereka miliki. Pengembangan pelajaran muatan lokal menjadi sangat penting agar bekal pengetahuan tersebut dapat terintegrasi dalam sistem pembelajaran dan dapat terus diimplementasikan di sekolah. Muatan lokal yang dikembangkan adalah pengetahuan tentang sumberdaya alam pesisir dan laut di Kepulauan Seribu (ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang), teknologi perikanan (teknik budidaya), dan juga kehidupan sosial masyarakat di pulau. Modul muatan lokal yang telah selesai dibuat ialah untuk kelas X.
2. Penanaman Mangrove
Kegiatan konservasi ini selain sebagai upaya menanamkan kesadaran lingkungan kepada para murid juga akan menjadi wahana belajar. Sebagai langkah awal kegiatan penanaman ini dilakukan di wilayah pantai di dekat SMA 69, dimana para siswa SMA 69 secara bergantian melakukan penanaman.
Pada periode Bulan Agustus – Desember 2005, Bulan Maret dan Agustus 2006 telah dilakukan penanaman bibit mangrove. Jumlah keseluruhan bibit yang ditanam ialah sebanyak 5400. Proses penanaman meliputi pencarian benih, pemeliharaan di dalam polybag, dan kemudian ditanam di pantai.
3. Transplantasi Karang Sebagai Upaya Rehabilitasi dan Budidaya Karang Hias
Salah satu cara untuk merehabilitasi terumbu karang yaitu dengan melakukan transplantasi karang. Meskipun upaya ini bukanlah yang terbaik untuk rehabilitasi terumbu karang, namun yang ditekankan di sini ialah proses pembelajaran siswa untuk mengenal apa itu karang dan bagaimana cara hidupnya. Dengan melakukan transplantasi karang diharapkan muncul kesadaran dari siswa bahwa begitu rentannya ekosistem terumbu karang dan betapa susahnya usaha memulihkan ekosistem terumbu karang yang telah terlanjur rusak. Selain itu transplantasi karang ini juga diarahkan kepada upaya budidaya karang hias.
Kegiatan ini dilakukan oleh siswa SMA 69 yang tergabung ke dalam kelompok minat khusus, yaitu kelompok minat karang. Selama penerapan Program GGS ini telah dilakukan kegiatan transplantasi karang, dimana sebanyak 176 induk karang (F0) telah ditransplantasi di dalam perairan di sekitar Pulau Pramuka. Para siswa dilibatkan dalam proses persiapan transplantasi, penaruhan rak transplantasi di dalam air, dan perawatan induk karang yang ditransplantasi. Dalam kegiatan transplantasi karang ini, pihak sekolah bekerja sama dengan TNKpS (Taman Nasional Kepulauan Seribu).
4. Pelatihan Snorkeling dan Menyelam
Salah satu kemampuan yang harus dimiliki para anggota kelompok minat karang adalah snorkeling dan menyelam. Oleh karenanya terlebih dahulu mereka dilatih snorkeling dan menyelam oleh Elang Ekowisata (sebuah kelompok pemuda di pulau yang mengembangkan usaha ekowisata kelautan) dan TNKpS.
5. Pembesaran Kerapu dan Bandeng
Teknik budidaya perlu diketahui dan dikuasai oleh para pemuda di pulau, agar kelak mereka dapat mengembangkan usaha budidaya kecil-kecilan yang akan menjadi mata pencaharian bagi mereka. Aktivitas budidaya juga diharapkan dapat mengurangi tekanan atau eksploitasi terhadap ekosistem laut, sehingga dapat memberikan kesempatan berbagai jenis biota laut untuk dapat berkembangbiak secara alami di habitatnya.
Media pembesaran untuk Kerapu dan Bandeng ini menggunakan bak pembesaran milik Salah seorang guru di SMAN 69, yang merupakan sumbangan dari Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan DKI Jakarta. Saat ini proses pembesaran Kerapu dan Bandeng baru pada tahap pengkulturan pakan bagi benih ikan, yakni dengan memelihara fitoplankton dan zooplankton pada bak-bak yang tersedia. Proses pembesaran ikan masih menunggu sumbangan benih Kerapu dan Bandeng dari Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan DKI Jakarta.
6. Pengolahan Rumput Laut
Rumput laut merupakan salah satu kekayaan alam masyarakat di wilayah pesisir, seperti halnya Kepulauan Seribu. Sejak tahun 1997 telah banyak upaya budidaya rumput laut oleh masyarakat di Kepulauan Seribu untuk meningkatkan perekonomian mereka. Rumput laut itu kemudian dijadikan bahan mentah bagi produk makanan seperti manisan. Namun sejak dua tahun yang lalu, kegiatan budidaya ini mengalami penurunan. Melalui program ini SMA 69 mengupayakan meningkatkan motivasi siswa untuk melakukan pengolahan rumput laut. Adapun jenis rumput laut yang diujicobakan ialah dari Marga Sargassum, yang kemudian diolah menjadi teh.
7. Penanaman Pohon Produktif, Tanaman Obat dan Tanaman Hias
Agar lingkungan sekolah di Kepulauan Seribu juga dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar, maka halaman sekolah dimanfaatkan untuk penanaman pohon produktif, tanaman obat, dan juga tanaman hias.
Hasil penanaman ialah sebagai berikut:
- Tertanam sebanyak 7 pohon produktif, 34 tanaman hias, dan 18 tanaman obat
- Siswa diajarkan untuk mengenal nama-nama tanaman yang ditanam dan melakukan penyiraman secara rutin
8. Memperkuat KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) SMA 69
KIR SMAN 69 telah berhasil mengukir prestasi yakni menjadi juara II penulisan karya ilmiah remaja mengenai terumbu karang pada tahun 2005, dan juara III dan Harapan II pada tahun 2006 ini.
Melalui program GGS ini maka KIR SMA 69 diperkuat sehingga dapat menambah bekal pengetahuan untuk para anggotanya. Aktivitas untuk KIR SMA 69 antara lain mengikuti lomba yang diadakan oleh Toyota yakni lomba pengolahan limbah, dan lomba pengolahan sampah rumah tangga yang diadakan oleh Yayasan Kirai. Selain itu anggota KIR SMA 69 juga mendapat dukungan dari pihak lain, yaitu mengikuti diklat (pelatihan) mengenai pengenalan ekosistem pesisir dan biota laut, yang diselenggarakan oleh Yayasan TERANGI dan P.T. Oracle Indonesia.
Kegiatan lainnya ialah para anggota KIR SMA 69 mengadakan field trip ke Pulau Pari, Kepulauan Seribu, dimana ada pusat pelatihan dari lembaga P20-LIPI (Penelitian dan Pengembangan Oseanologi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk mempelajari budidaya kuda laut.
Faktor Pendukung Pelaksanaan GGS di SMA 69
- Tersedianya sarana untuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan
- Antusias dan semangat para siswa mengikuti kegiatan
- Narasumber yang kompeten yang mendukung pelaksanaan
- Mitra kerja yang konsisten memfasilitasi dan mendukung sekolah
- Dorongan yang juga didapat oleh siswa dari orang tua
Kendala Pelaksanaan GGS di SMA 69
- Untuk beberapa kegiatan, sarana yang ada masih belum memadai (contohnya pada kegiatan pembesaran Kerapu dan Bandeng)
- Waktu yang tersedia kurang, ataupun bertepatan dengan kegiatan-kegiatan lain di luar GGS, sehingga ada beberapa jadual pelaksanaan kegiatan GGS yang mundur
- Faktor alam yang berubah-ubah, sehingga menghambat beberapa kegiatan (contohnya pada kegiatan transplantasi karang, sangat bergantung terhadap cuaca laut)
- Ketersediaan pembina dan narasumber dianggap masih kurang
- Koordinasi dan komunikasi antar satu kegiatan dengan kegiatan lainnya masih kurang
- Kurangnya ketersediaan dana
SMK Al Muslim, Tambun - Bekasi
Tema GGS: “Pembelajaran Berbasis Alam dan Lingkungan”
SMK Al-Muslim memiliki fasilitas dan sarana yang memadai untuk mengembangkan program pelestarian lingkungan. Lahan seluas 2 hektar merupakan modal dalam mengembangkan upaya penghijauan dan perkebunan. Sebelum menerapkan program GGS, SMK Wikrama telah berkomitmen untuk mengembangkan program GE (Green Education), dimana siswa diarahkan ke budaya memelihara lingkungan yang asri, dan kegiatan perkebunan dan penghijauan yang diterapkan secara berkelanjutan.
Program GGS yang djalankan oleh SMK Al-Muslim terfokus kepada upaya penghijauan dan perkebunan, serta penerapan kawasan sekolah yang hijau, asri, bersih, dan sehat. Pengelolaan sampah sekolah masih baru dilakukan. Upaya pengembangan pelestarian lingkungan di sekitar sekolah juga dipadukan dengan peningkatan kemampuan siswa untuk berkebun, beternak, dan mengelola wirausaha.
Tujuan Penerapan GGS:
- Warga sekolah menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari
- Adanya kurikulum muatan lokal yang mengintegrasikan mata pelajaran dengan kegiatan yang menjaga dan merawat lingkungan
- Adanya penataan ruang yang ramah lingkungan
Program-program GGS yang dilaksanakan:
Semua program GGS di SMK Al-Muslim dipayungi oleh sebuah program besar bernama: Green Education, yang terdiri atas 11 program. Dalam perkembangannya terjadi peleburan program, dimana 11 program tersebut kemudian dilebur menjadi 7 program, yakni:
1. Pemberdayaan Tim Relawan GE (Green Education)
Tim relawan GE adalah sekelompok siswa yang secara sukarela berperan aktif melaksanakan dan mendorong siswa lain untuk memiliki kesadaran lingkungan. Sistem kerja relawan GE ini mirip multi-level marketing, dimana mereka menarik siswa lain untuk turut menjadi relawan GE. Saat ini tim relawan GE telah berjumlah sekitar 64 siswa, dari Kelas I dan II. Mereka melakukan kegiatan membersihkan sekolah dan penghijauan.
2. Pemanfaatan Fasilitas Sekolah
Pemanfaatan fasilitas sekolah, merupakan gabungan dari 5 program yakni:
a. Proyek Pemanfaatan Lahan Sempit
Di dalam kawasan sekolah masih cukup banyak terdapat lahan-lahan sempit yang belum termanfaatkan dengan optimal sebagai lahan “hijau”. Lahan ini biasanya terletak di antara bangunan atau di sudut bangunan. Seiring dengan berjalannya Program GGS ini, SMK Al-Muslim telah membuat 3 taman sekolah.
b. Penerapan 5 S
5 S merupakan singkatan dari senyum, salam, sapa, sopan, dan santun. Budaya 5S merupakan nilai utama di dalam lingkungan SMK Al-Muslim. Penerapan budaya ini sebenarnya telah dilakukan sejak lama. Budaya 5S dianggap sangat baik untuk menunjang pelaksanaan kegiatan peningkatan kesadaran lingkungan di SMK Al-Muslim. Oleh karena itu sejalan dengan implementasi Program GGS maka budaya 5 S lebih ditekankan lagi.
c. Penerapan Kawasan Bebas Rokok
SMK Al-Muslim termasuk sekolah yang memerangi bahaya atau dampak negatif dari merokok. Saat ini SMK Al-Muslim telah memberlakukan lingkungan sekolah sebagai kawasan bebas asap rokok, dan siapa pun, baik itu siswa, guru, tamu, dan lainnya, dilarang untuk merokok di seluruh kawasan sekolah.
d. Proyek Usaha Pemanfaatan Lahan Sempit Sekolah Oleh Siswa
SMK Al-Muslim memiliki lahan seluas 2 hektar yang selama ini digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman produktif jangka pendek, seperti jagung, cabe, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Di lahan tersebut juga ditanami dengan pohon-pohon keras diantaranya jati emas, sukun, durian, dan sawo kecik. Disamping itu, digunakan untuk memelihara hewan ternak yaitu kambing dan unggas.
Pada pelaksanaan Program GGS ini, siswa dilibatkan di dalam penanaman berbagai jenis tanaman, yakni tanaman cabai, bayam, jagung, kacang tanah, dan tanaman hias. Siswa juga dilibatkan dalam pencangkokan tanaman buah, yakni jambu biji, sawo kecik, rambutan, dan belimbing, serta menanam berbagai jenis tanaman obat.
Tidak hanya penanaman, tetapi siswa juga memantau perkembangan tanaman dan merawatnya. Salah satunya ialah memantau pertumbuhan tanaman cabai, yaitu dengan cara mengukur panjang dan diameter batang tanaman. Selain untuk memahami dunia pertanian, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mendekatkan siswa untuk mengenal dan memahami aktivitas pengelolaan alam secara berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, SMK Al-Muslim telah membuat sebuah mading khusus untuk sosialisasi kegiatan GGS, yang berisi informasi tentang berbagai jenis kegiatan GGS, termasuk kegiatan penanaman dan perawatan tanaman ini. Dengan adanya mading ini maka diharapkan siswa lain yang belum terlibat dalam kegiatan GGS dapat turut mengetahui perkembangan Program GGS di sekolah mereka.
e. Kampanye Hemat Energi dan Air
Energi dan air merupakan sumberdaya yang selalu diperlukan di dalam berbagai aktivitas. Ketersediaan energi dan air pada dasarnya terbatas, karena itu perlu ada sistem penghematan dalam penggunaannya. Melalui program GGS, seluruh warga sekolah dihimbau untuk mempunyai perilaku menghemat energi dan air.
Kegiatan kampanye segera dilakukan oleh pihak sekolah, yakni berupa pemasangan poster / pamflet di tempat-tempat strategis. Selain itu juga dipasang stiker-stiker di tombol-tombol listrik (yang menghimbau matikan lampu jika tidak diperlukan). Selain itu kampanye mengenai Program GGS dituangkan ke dalam bentuk-bentuk menarik seperti poster, stiker hemat energi, kaos dan pin relawan GE, dll.
3. Pengelolaan Sampah
Dalam program GGS ini, pengelolaan sampah dibagi menjadi 2, yaitu pengelolaan sampah organik, dan anorganik. Pengelolaan sampah organik dilakukan dengan mengolah daun-daun kering dan pupuk kandang di kawasan sekolah menjadi pupuk kompos yang digunakan untuk menyuburkan tanaman buah di lingkungan sekolah. Sampah organik lainnya, seperti bekas pelepah jagung dimanfaatkan menjadi hiasan berbentuk bunga. Sampah organik lainnya yang berasal dari kantin sekolah belum banyak dimanfaatkan.
Pengelolaan sampah anorganik telah mulai dicobakan melalui Program GGS ini, yakni dengan mengubah (re-use) dari sampah-sampah plastik (seperti bekas bungkus pembersih lantai ataupun deterjen), menjadi produk siap pakai (seperti dompet dan tas). Sampah kertas juga didaur ulang dan dibentuk sedemikian rupa menjadi kerajinan seperti gantungan kunci. Sampah berupa botol-botol plastik kemudian disalurkan ke pemulung.
SMK Al-Muslim juga menyediakan sarana untuk memilah sampah, yakni dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik di lingkungan sekitar sekolah.
Sosialisasi dan praktek pemilahan sampah organik dan anorganik dilakukan oleh guru, siswa, dan warga sekolah lainnya (kantin, petugas kebersihan, dll).
4. Pengintegrasian Isu Lingkungan Ke Dalam GBPP
Memasukkan isu lingkungan ke dalam mata pelajaran lebih mendekatkan siswa dengan persoalan-persoalan lingkungan, sehingga diharapkan akan terbangun kesadaran lingkungan di dalam diri mereka. Untuk itu di dalam Program GGS ini, SMK Al-Muslim telah berhasil mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam mata pelajaran kepemimpinan (leadership), kewirausahaan, dan Bahasa Indonesia. Selain itu ada satu mata pelajaran tambahan di sekolah, yakni Green Education. Isu lingkungan juga disisipkan ke dalam mata pelajaran penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan) dan PPKn.
5. Open House dan Lomba Pidato Bertemakan “Lingkungan Hidup”
Open house dilakukan di SMK Al-Muslim bertepatan dengan pelaksanaan lomba pidato. Dalam acara ini dipamerkan hasil karya siswa SMK Al-Muslim dalam mendaur ulang sampah kertas dan penggunaan kembali sampah plastik.
Untuk memotivasi murid mengenal dan mendalami permasalahan-permasalahan lingkungan, maka dilakukan lomba pidato dengan tema lingkungan. Lomba pidato ini ada 2, yaitu lomba pidato bertemakan “Lingkungan Hidup” antar siswa SMP dan lomba pidato bertemakan “Lingkungan Hidup” antar siswa SMA, atau yang sederajat.
6. Pembagian Bibit Tanaman dan Hadiah Oksigen dari SMK Al- Muslim bagi Komunitas Sekitar
Untuk turut menjaga lingkungan dan meningkatkan produksi oksigen dan kualitasnya, SMK Al-Muslim mencanangkan kegiatan hadiah “oksigen”, dimana yang diberikan adalah bibit pohon berbuah yang telah berkembang dan siap ditanam. Pemberian hadiah ”oksigen” ini dilakukan kepada puskesmas dekat sekolah, dan ke beberapa perusahaan tempat dimana para siswa SMK Al-Muslim melakukan kegiatan magang. Pohon-pohon buah yang diberikan ialah pohon-pohon yang telah dirawat oleh para siswa SMK Al-Muslim. Pemberian hadiah menjadi simbol kepedulian siswa SMK Al-Muslim dalam menyelamatkan lingkungan sekaligus wujud syukur atas keberhasilan belajar mereka.
7. Manajemen Sekolah yang Berwawasan Lingkungan
Yayasan SMK Al-Muslim telah memiliki komitmen untuk terus melanjutkan kegiatan-kegiatan yang berwawasan lingkungan, antara lain akan terus mengaplikasikan program-program rutin sekolah seperti halnya program Green Education (Adanya relawan GE), dan program pengintegrasian isu lingkungan ke dalam mata pelajaran. Selain itu sebagian dari prinsip atau sistem sekolah yang berwawasan lingkungan (antara lain menjalankan prinsip hemat energi, pemilahan sampah, dan penghijauan) juga akan terus dilakukan oleh SMK Al-Muslim.
Faktor Pendukung Pelaksanaan GGS di SMK Al-Muslim
- Antusiasme siswa
- Program dan komitmen yayasan yang mendukung yakni:
- Leadership (kepemimpinan)
- GE (adanya program Green Education sebagai bagian penting dari program sekolah)
- Kesungguhan tim GGS di dalam bekerja
- Fasilitas / sarana dan prasarana yang memadai
- Adanya dukungan dana dan kerja sama dengan mitra-mitra
Kendala Pelaksanaan GGS di SMK Al-Muslim
- Full day school (padatnya jadual belajar-mengajar) menyebabkan para guru dan siswa tersita waktunya, sehingga waktu yang tersedia untuk menjalankan program GGS menjadi terbatas dan tidak optimal
- Sumber daya manusia yang terbatas (SDM guru terbatas)
Tema GGS: “Hidup bermutu dengan Sekolah Hijau”
SMK Wikrama merupakan salah satu sekolah yang memiliki bidang keahlian Teknik Informatika dan Komunikasi. Meskipun SMK Wikrama tidak memiliki jurusan khusus di bidang lingkungan ataupun kesehatan, namun SMK ini memiliki komitmen yang tinggi dalam hal membangun lingkungan alam yang asri, bersih, sehat, dan nyaman. Sepuluh kegiatan yang dijalankan oleh SMK Wikrama di dalam program GGS ini saling bersinergi dan lengkap untuk membangun sebuah sistem sekolah yang memiliki lingkungan alam yang bersih dan sehat, dan membangun budaya hidup bersih, sehat, dan menjaga lingkungan dari warga sekolahnya.
SMK Wikrama juga memandang persoalan lingkungan alam secara holistik sehingga mencoba menanggulangi permasalahan lingkungan di sekitarnya secara terpadu, dan berhasil menggerakkan satu komponen penting di dalam menjalankan sebuah program di sekolah, yakni manajemen sekolah. Kebijakan dan manajemen sekolah di SMK Wikrama sangat berperan di dalam mendukung keberhasilan program GGS ini dan memiliki komitmen yang tinggi untuk terus melaksanakan misi GGS yang dikembangkan di SMK Wikrama ini, dalam jangka panjang.Tujuan Penerapan GGS:
- Terbangunnya kepedulian siswa dan guru SMK Wikrama terhadap masalah-masalah lingkungan
- Terciptanya lingkungan hidup yang bermutu di kawasan SMK Wikrama dan sekitarnya
- Berjalannya sistem pengendalian lingkungan berbasis sekolah di SMK Wikrama
- Terciptanya model sistem yang ramah lingkungan di SMK Wikrama
- Terbentuknya budaya “hidup hijau” dalam peilaku warga SMK Wikrama
Program-program GGS yang dilaksanakan:
1. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan
SMK Wikrama memandang perlu untuk membuat kurikulum yang berbasis lingkungan, oleh karena saat ini masalah lingkungan hidup telah semakin meluas dan membebani. Melalui kurikulum ini siswa akan memperoleh kesempatan untuk menggali dan memahami permasalah-permasalahan lingkungan serta mengaitkan dengan kompetensi mereka untuk andil dalam mengatasi krisis lingkungan.
Proses yang dilakukan ialah mengintegrasikan materi lingkungan hidup ke dalam kurikulum secara adaptif (contohnya di materi Bahasa Indonesia), normatif (contohnya di pelajaran agama dan PPKn), dan produktif (contohnya pada aplikasi TI). Proses pengintegrasian ini dilakukan melalui 2 kali lokakarya dan beberapa kali tahap pengembangan melalui kelompok kerja yang beranggotakan para guru terkait.
Saat ini penyusunan silabus pengintegrasian isu lingkungan ke dalam kurikulum telah selesai dilakukan, dan ditujukan ke hampir semua mata pelajaran, kecuali ilmu kesekretarisan.
2. Perwujudan Sekolah Sejuk dan Produktif
Sekolah Hijau seharusnya dapat menjadikan lingkungan sekolah menjadi lebih sejuk dan produktif. Kesejukan diharapkan bisa meningkatkan kenyamanan belajar dan kesehatan siswa, sedangkan produktifitas menunjukkan seberapa efektif penggunaan lahan yang ada di sekolah sebagai lahan untuk penanaman. Ini merupakan pendidikan yang baik bagi siswa untuk menghargai lingkungan sekitar mereka.
Seluruh kawasan sekolah merupakan kawasan bebas asap rokok. Saat ini kondisi sekolah terlihat asri, sejuk, bersih, dan nyaman. Meskipun SMK Wikrama tidak memiliki lahan atau kebun yang luas, namun banyak tanaman yang menghiasi sekolah, baik di kebun, maupun di dalam pot-pot yang ditaruh di samping kelas, halaman sekolah, dll. Tanaman yang ditanam di lahan ialah jagung, cabai, dan tomat. Setiap kelas tidak dilengkapi AC, sebaliknya saluran air mengelilingi bangunan sekolah dan ruangan-ruangan dengan banyak ventilasi udara membantu menciptakan sekolah sejuk dan berudara segar untuk dinikmati warganya. Hal ini juga berarti bahwa ada penghematan energi, yang juga menjadi ciri khas dari sekolah yang berwawasan lingkungan.
3. Vertikultur Tanaman Sayuran Untuk Kantin
Saat ini telah ada pula upaya penanaman sayuran oleh siswa, yang hasilnya dimanfaatkan untuk dijual ke kantin sekolah. Siswa menanam tanaman sayuran seperti cabai dengan teknik vertikultur, yaitu teknik budidaya tanaman di lahan sempit, menggunakan para-para bertingkat. Tanaman yang divertikultur antara lain ialah sawi , kangkung, dan seledri. Narasumber untuk kegiatan ini ialah staf Jurusan Budidaya Pertanian – IPB.
4. Pengembangan Jejaring Kerjasama
Dalam menyukseskan program GGS, maka SMK Wikrama memandang perlu adanya dukungan dan kerjasama dengan berbagai pihak. Untuk itu SMK Wikrama menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah dan LSM yang terkait di bidang kesehatan, lingkungan hidup, dan kepramukaan. Kerja sama yang dilakukan dengan Dinas Kesehatan Bogor, yakni dengan pengadaan posko kesehatan di sekolah setiap hari tertentu, dimana seluruh warga sekolah dan masyarakat di sekitar sekolah mendapat pelayanan kesehatan secara gratis. Dukungan juga didapat dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor dalam hal pembuatan kompos.5. Pemberdayaan Gugus Siswa Berbasis Lingkungan
Gugus Siswa merupakan sistem yang unik di SMK Wikrama, dimana setiap siswa yang bersekolah di SMK Wikrama akan dikelompokkan menjadi gugus-gugus siswa sesuai dengan wilayah tempat tinggal mereka (rayonisasi). Gugus siswa terdiri atas siswa aktif dan juga para alumni sekolah. Melalui gugus Siswa ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa saling kepedulian di antara warga sekolah baik yang telah tamat bersekolah di SMK Wikrama maupun yang masih bersekolah. Gugus ini juga merupakan bentuk kepedulian SMK Wikrama untuk mewujudkan komunitas belajar berbasis sekolah.
Dalam Program GGS, maka gugus siswa ini berperan untuk mengidentifikasi persoalan lingkungan di wilayah masing-masing, mencari pemecahannya, dan juga mensosialisasikan ke berbagai pihak. Identifikasi dan diskusi persoalan lingkungan ini dilakukan melalui FGD (Focus Group Discussion). Pemberdayaan gugus siswa ini juga mendatangkan berbagai narasumber, antara lain dari Yayasan Kelor.
Salah satu kegiatan gugus siswa ini ialah debat Bahasa Indonesia bertemakan lingkungan, dimana setiap kelompok gugus siswa membahas dan menggali persoalan-persoalan lingkungan yang ada, melalui suatu lomba debat. Lomba ini diikuti 18 rayon atau gugus siswa.
6. Aplikasi TI Dalam Pengelolaan Lingkungan
SMK yang bewawasan lingkungan merupakan program SMK Wikrama yang dicanangkan pada tahun diklat 2005/2006. Dokumentasi dalam pengelolaan lingkungan merupakan hal yang penting, sehingga SMK Wikrama memanfaatkan keunggulan di bidang teknologi informatika dengan mengembangkan sistem informasi perilaku hidup sehat bagi warga sekolah dan juga mengembangkan sistem informasi berbasis situs (website).
Saat ini telah dikembangkan sebuah situs yang berisi informasi tentang program GGS di SMK Wikrama dan mensosialisasikan kegiatan-kegiatan GGS yang telah dijalankan. Saat ini pula SMK Wikrama telah berhasil mengembangkan sebuah program komputer untuk mengetahui kebutuhan kalori setiap individu yang disesuaikan dengan berat dan tinggi badan, serta aktivitas dari individu tersebut.
7. Pramuka Cinta Lingkungan
Sesuai dengan perannya Pramuka merupakan organisasi yang berperan aktif di alam tebuka, dan suatu kewajiban bagi seorang Anggota Pramuka untuk peduli akan pelestarian, keindahan dan perawatan lingkungan.
Gudep (Gugus Depan) SMK Wikrama membentuk beberapa Saka, diantaranya Saka Bhakti Husada, dan Saka Taruna Bumi. Saka-saka ini berperan aktif dalam bidang kesehatan, pelestarian tanaman dan peduli limbah, dibawah bimbingan Pembina Pramuka. Anggota Saka Bhakti Husada mengikuti pelatihan tentang kesehatan dan gizi yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor, dan membantu pelaksanaan posko kesehatan, serta memantau kondisi kantin sehat sekolah secara rutin. Anggota Saka Taruna Bumi dilatih ketrampilan daur ulang kertas dan pembuatan kompos dari sampah organik.
8. Pengembangan Sistem Hemat Energi
SMK Wikrama menyadari bahwa krisis energi menjadi sebuah isu penting yang perlu ditanggulangi. Oleh karenanya, SMK Wikrama mencoba untuk meminimalisasi penggunaan energi dengan cara membuat sistem otomatisasi penggunaan energi. Alat tersebut dibuat sendiri oleh para guru SMK Wikrama, dimana alat tersebut dapat mematikan arus listrik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Selain itu juga dipasang stiker-stiker di tombol-tombol listrik (yang menghimbau hemat energi, matikan lampu jika tidak diperlukan), dan stiker-stiker di setiap kran air (yang menghimbau hemat air, tutup kran dengan baik jika tidak dipakai).
9. Kantin Sehat
Kegiatan membangun kantin sehat meliputi pembangunan sarana pendukung dan kesiapan menu makanan yang sesuai standar kesehatan. Sarana kantin yang dipersiapkan dengan baik meliputi: tempat memasak, tempat cuci perabotan, tempat cuci tangan, tempat menyimpan makanan dan menghidangkan makanan, tempat pembuangan sampah, dan juga kebersihan ruangan kantin.
SMK Wikrama memberlakukan peraturan makanan yang sehat dan bergizi untuk kantin sekolahnya, sehingga setiap masakan dan minuman yang dijual di kantin harus memenuhi kriteria-kriteria antara lain sebagai berikut :
- Bahan makanan dan minuman harus meminimalkan penggunaan bahan pengawet, penyedap rasa, bahan pengembang atau bahan kimia lain.
- Jenis makanan dan minuman harus banyak mengandung kandungan gizi yang tinggi sesuai dengan kebutuhan siswa.
10. Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah sangat penting agar tidak menimbulkan masalah atau memberi dampak negatif bagi lingkungan di sekitar. Melalui Program GGS ini, SMK Wikrama telah mencanangkan program daur ulang sampah organik menjadi pupuk atau kompos, dan daur ulang sampah kertas. Selain itu SMK Wikrama juga menampung sampah plastik, yang terdiri atas bekas botol yang disalurkan ke pemulung, dan sampah plastik lainnya (misalnya bekas bungkus deterjen) untuk diolah menjadi produk siap pakai (tas, dompet, dll.)
Kegiatan pengelolaan sampah ini baru digalakkan dan sekolah baru belajar menerapkannya. Namun sarana pemilahan sampah telah tersedia dengan baik, yaitu adanya tempat sampah khusus untuk kertas, sampah sisa makanan (organik), dan sampah anorganik (plastik). Sampah sisa makanan dari kelas maupun dari kantin dimanfaatkan menjadi pupuk kompos yang secara rutin diproduksi. Untuk sampah kertas bekas didaur ulang dengan bantuan dari Mawebe, sebuah lembaga yang menggalakkan usaha di bidang daur ulang kertas.11. Budaya Hidup Sehat
Menurut pandangan SMK Wikrama diperlukan adanya pendidikan yang mengarah kepada pembentukan pribadi lulusan yang berbudaya sehat. Hal ini mendorong SMK Wikrama untuk mengembangkan budaya hidup sehat sejak dini.
SMK Wikrama kemudian mengembangkan perilaku atau budaya hidup sehat di sekolah dimana seluruh warga sekolah diajak untuk memelihara lingkungan yang bersih dan nyaman, makan makanan yang sehat, pemeriksaan kesehatan secara rutin, dan menjaga lingkungan hidup.
Cara yang digunakan ialah dengan menempel poster-poster tentang kesehatan dan lingkungan di dinding-dinding sekolah, baik di dekat tangga, maupun di kantin sekolah. Siswa juga dihimbau melalui pidato atau ceramah ketika upacara bendera. Yang dinilai cukup inovatif ialah SMK Wikrama juga mengembangkan sistem rewards dan punishments untuk siswa, dimana setiap siswa akan dinilai tidak saja melalui prestasi akademis, tetapi juga dari perilaku mereka dalam mentaati peraturan sekolah dan dalam menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan di sekolah.
Faktor Pendukung Pelaksanaan GGS di SMK Al-Muslim
- Komitmen sekolah untuk terus mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan
- Manajemen sekolah yang sangat mendukung misi sekolah yang berwawasan lingkungan
- Kesungguhan tim GGS di dalam bekerja
Kendala Pelaksanaan GGS di SMK Al-Muslim
- Padatnya jadual belajar-mengajar dan banyaknya program sekolah lainnya
- Terbatasnya narasumber untuk mentransfer pengetahuan dan ketrampilan di dalam kegiatan-kegiatan GGS yang dijalankan








