504 views GRK Sebabkan Ozon Rusak dan Krisis Iklim – KEHATI KEHATI

GRK Sebabkan Ozon Rusak dan Krisis Iklim

  • Date:
    16 Sep 2021
  • Author:
    KEHATI

Ditulis oleh:

Amanda Katili Niode

Executive Coach & Mentor

Climate Actions & Sustainability Practices

———-

 

Gas-gas rumah kaca (GRK) selain memicu pemanasan global dan krisis iklim ternyata juga menyebabkan lapizan ozon menipis. Gas-gas di atmosfer Bumi itu memerangkap panas, yang berarti membiarkan sinar matahari melewati atmosfer, tetapi mencegah panas yang dibawa sinar matahari meninggalkan atmosfer.

 

Proses alamiah yang menghangatkan Bumi ini disebut efek rumah kaca, yang memang diperlukan agar Bumi menjadi nyaman dihuni. Disebut rumah kaca, karena prinsipnya seperti rumah kaca yang jika di siang hari diterangi sinar matahari dan menghangatkan tanaman dan udara di dalamnya. Pada malam hari, meski di luar lebih dingin, di dalam  rumah kaca tetap hangat, karena dinding kaca rumah kaca telah memerangkap panas matahari.

 

Apa saja GRK yang umum diketahui?

 

Yang menjadi perhatian internasional adalah GRK utama yang dihasilkan dari aktivitas manusia dan diperhitungkan untuk menangani berbagai krisis, yatu:  Karbon dioksida (CO2), Metana (CH4) dan Dinitrogen oksida (N2O). Selain itu juga ada gas-gas dari industri, terutama fluorida, seperti Hidrofluorokarbon (HFC), Perfluorokarbon (PFC), Sulfur heksafluorida (SF6) dan Nitrogen trifluorida (NF3).

 

GRK lainnya adalah uap air dan ozon. Uap air adalah GRK yang paling melimpah, tetapi sebagian besar ilmuwan percaya bahwa uap air yang dihasilkan langsung oleh aktivitas manusia berkontribusi sangat kecil terhadap jumlah uap air di atmosfer.

 

Ozon secara teknis adalah GRK juga, tetapi, menurut US Energy Information Administration, bermanfaat atau berbahayanya ozon tergantung di mana ia ditemukan di atmosfer Bumi.

 

Ozon di permukaan tanah, yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil, berkontribusi terhadap kabut asap dan membahayakan jantung dan paru-paru kita.

 

Ozon juga terjadi secara alami pada ketinggian yang lebih tinggi di atmosfer (stratosfer) dan menghalangi sinar ultraviolet yang berbahaya bagi kehidupan tumbuhan dan hewan untuk mencapai permukaan Bumi.   Aktivitas manusia terutama penggunaan gas seperti klorofluorokarbon (CFC) dalam kaleng semprot, lemari es, dan pendingin ruangan memecah molekul ozon di atmosfer. Akibatnya terjadi penipisan lapisan ozon, bahkan menjadi lubang ozon di atas Kutub Selatan selama musim semi Belahan Bumi Selatan.

 

CFC yang merusak ozon juga merupakan GRK yang kuat, meskipun hadir dalam konsentrasi kecil di atmosfer, yaitu beberapa ratus bagian per triliun, dibandingkan dengan beberapa ratus bagian per juta untuk karbon dioksida.

 

Kegiatan manusia telah membuat Bumi semakin gerah pada tingkat yang belum pernah ada, setidaknya dalam 2000 tahun terakhir. Konsentrasi GRK, terutama karbon dioksida, yang umumnya disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan tata guna lahan, kini mencapai angka tertinggi dalam 2 juta tahun terakhir. Sedangkan tinggi muka laut meningkat dengan laju tercepat dalam 3000 tahun terakhir.

 

Panas ekstrem dan hujan deras kini menjadi lebih sering dan lebih intens; kekeringan meningkat di beberapa region; cuaca pemicu kebakaran menjadi lebih sering; sedangkan di lautan terjadi pemanasan, pengasaman dan kehilangan oksigen, sehingga biota laut sangat terancam.

 

Pemanasan global dan perubahan iklim terkait erat dan kedua istilah ini kadang digunakan secara bergantian, namun secara teknis sebenarnya merujuk pada dua hal yang berbeda.

Pemanasan global adalah meningkatnya suhu permukaan rata-rata Bumi karena bertambahnya GRK di atmosfer. Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam iklim Bumi yang mencerminkan fakta bahwa gas rumah kaca lebih dari sekadar menghangatkan planet ini.

 

Perubahan suhu bukanlah satu-satunya dampak buruk dari perubahan iklim. Perubahan pola curah hujan dan meningkatnya permukaan laut cenderung memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada suhu yang lebih tinggi saja. Berbagai dampak ini tidak saja merusak kualitas lingkungan, namun juga membahayakan kesehatan manusia, keamanan pangan, kegiatan pembangunan ekonomi, pengelolaan sumberdaya alam, dan infrastruktur fisik.

 

Perubahan iklim dan penipisan lapisan ozon merupakan masalah global yang berdampak untuk semua negara di dunia. Karenanya untuk menyikapi kedua masalah itu diperlukan kesepakatan internasional yang disetujui negara-negara di dunia, dan juga mobilisasi sumber daya dan sumber dana secara global pula. Kesepakatan internasional umumnya diratifikasi menjadi peraturan perundang-undangan setiap negara.

 

Protokol Montreal mengatur produksi dan konsumsi hampir 100 bahan kimia buatan manusia yang disebut sebagai bahan perusak ozon. Pengaturan dilakukan dengan secara bertahap dengan mengurangi konsumsi dan produksi bahan perusak ozon yang berbeda secara bertahap, dengan jadwal yang berbeda juga untuk negara maju dan berkembang. Sebagai kesepakatan internasional yang sukses Protokol Montreal dapat mengurangi 99% CFC, bahan perusak ozon yang berbahaya.

 

Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB, dengan Persetujuan Paris sebagai turunannya mengatur respon global terhadap ancaman perubahan iklim untuk menjaga kenaikan suhu global abad ini agar di bawah 2ºC dibandingkan suhu pra-industri,  dan diupayakan menekannya hingga 1,5ºC. Caranya antara lain dengan mengurangi GRK. Pelaksanaan Persetujuan Paris masih terus dirundingkan,  termasuk untuk membina kemampuan negara-negara dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Adapun GRK yang merupakan bahan perusak ozon secara spesifik diatur dalam Protokol Montreal.

 

Apa yang dapat dilakukan masing-masing individu dalam menghadapi krisis iklim dan penipisan lapisan ozon?

 

PBB mencanangkan “Act Now” (Bertindak Sekarang), kampanye  untuk tindakan perorangan dalam menghadapi perubahan iklim dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan  melalui aplikasi ponsel bernama AWorld.

 

Serangkaian tindakan yang bisa dilaksanakan perorangan dapat dimulai dengan 10 hal, yaitu mandi hanya 5 menit, membawa tas belanja sendiri, mengurangi berkendaraan bermotor, mematikan lampu, menggunakan produk lokal, mengonsumsi makanan nabati, mendaur ulang, mengisi ulang dan menggunakan kembali, mencabut colokan listrik tidak terpakai, dan mengikuti fesyen tanpa limbah.

 

Terkait dengan penipisan lapisan ozon, PBB mengatakan meskipun kita kini terlindungi dengan baik oleh lapisan ozon, kita semua harus waspada terhadap paparan radiasi UV, beberapa hal harus dilakukan untuk membantu melindungi diri sendiri dan keluarga.

Caranya adalah dengan menghindari paparan sinar matahari yang berlebihan, dan menggunakan peralatan secara bertanggung jawab.

 

Menghindari paparan sinar matahari berlebihan dapat dengan menggunakan kacamata dan tabir surya (sunscreen), memerhatikan indeks ultraviolet, dan menggunakan bayangan diri untuk memeriksa level ultraviolet. Jika indeks tinggi berarti ada risiko kerusakan kulit, sedangkan jika bayangan lebih tinggi dari diri kita, maka paparan ultraviolet berarti rendah.

 

Menggunakan peralatan secara bertanggung jawab termasuk membeli lemari es dengan label  ‘ramah ozon’ atau ‘bebas HCFC’ atau “efisiens energi.” Pendingin yang digunakan harus sesuai ukuran ruangan, juga menggunakan tirai jika terlalu banyak sinar matahari. Kondensor dan evaporator harus dibersihkan secara teratur. Pendingin mobil dan lemari es harus rutin diperiksa untuk mendeteksi jika ada kebocoran, sehingga dapat diperbaiki.

 

Pada dasarnya setiap orang, selaku bagian dari masyarakat, dapat membantu menjaga planet Bumi, dengan mengubah kebiasaan masing-masing dan membuat pilihan yang mengurangi ancaman bagi lingkungan.

 

*****