58 views Indonesia Menjadi Tempat Migrasi Burung dari Cina dan Rusia – KEHATI KEHATI

Indonesia Menjadi Tempat Migrasi Burung dari Cina dan Rusia

  • Date:
    24 Jan 2023
  • Author:
    KEHATI

Wilayah kepulauan di Indonesia menjadi tempat tujuan burung-burung air yang bermigrasi dari Cina, Rusia dan Eropa. Pola migrasi burung-burung air dari belahan utara tersebut dimulai pada bulan September hingga November, di mana wilayah Eropa, Rusia, dan Cina memasuki musim dingin. Pada musim dingin ini persediaan makanan satwa di alam liar semakin berkurang.

 

Ketika satwa lain sedang memasuki masa hibernasi karena cuaca dingin, burung memilih untuk terbang jauh atau bermigrasi ke negara-negara yang memiliki cuaca lebih hangat. Pada masa itu, burung-burung air yang berasal dari Eropa, Rusia dan Cina pun ikut bermigrasi ke wilayah Asia Tenggara. Vietnam, Thailand, Malaysia dan Indonesia menjadi salah satu tujuan burung bermigrasi.

 

“Jalur yang dilewati burung-burung air ini bermula di Rusia melewati jalur selatan yaitu Cina, Vietnam, Thailand dan Malaysia kemudian menyeberang ke Indonesia. Di Indonesia burung-burung air ini menuju Sumatera melalui Pulau Rupat di Riau dan masuk Pulau Jawa, untuk kemudian menyebar ke Kalimantan, Sulawesi hingga Nusa Tenggara dan Papua,” tutur Ady Kristanto Koordinator Jakarta Birdwatcher Society (JBS).

Biodiversity Warrior KEHATI bekerjasama denga JBS untuk mengamati burung air di Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk Jakarta Utara akhir pekan lalu. Kegiatan ini sebagai bentuk partisipasi sains warga pada Asian Waterbird Cencus (AWC) yang diadakan setiap tahun. Di Indonesia AWC dikoordinir oleh Wetland Internasional Indonesia.

 

Selain dari Rusia dan Cina, Indonesia juga kedatangan burung yang bermigrasi dari selatan yaitu benua Australia. Kebalikan dari belahan bumi utara dimana bulan April dan Mei sudah memasuki musim semi, maka di Australia mulai memasuki musim dingin. Kondisi ini membuat burung-burung seperti Cekakak Australia dan Kirik-Kirik Australia bermigrasi ke Indonesia.

 

Untuk memonitor pergerakan burung ini, kata Ady, ada salah satu metode yang disebut Bird Banding Scheme. Metode riset ini memantau burung-burung  yang sudah diberi tanda. Mereka kemudian dilepas dan pada tahun berikutnya  dipantau apakah burung-burung itu masih bisa survive atau tidak.

 

Burung migran yang ditangkap di Jawa diberi gelang bendera warna orange dan hitam sedangkan burung yang ditangkap di Sumatera diberi tanda bendera berwarna hitam dan orange. Burung yang sudah diberi tanda ini pada bulan Mei akan terbang kembali menuju belahan bumi utara.

Para pengamat burung internasional saling bertukar informasi tentang keberadaan burung-burung tersebut. Melalui forum internasional, kelompok pengamat burung di setiap negara yang tergabung ke dalam forum akan memberikan informasi tentang kembalinya burung-burung migran tersebut ke habitat mereka. Dari saling bertukar informasi ini bisa diketahui berapa jarak yang sudah ditempuh oleh burung yang bermigrasi tersebut.

 

Sebagian besar burung-burung migran yang dilindungi mendapatkan perhatian khusus dari negara-negara lain. Jika di suatu negara burung tersebut diburu orang maka bisa menimbulkan masalah internasional.

 

Salah satu contoh kasus adalah terjadinya penangkapan burung air secara besar-besaran di Semarang dan Indramayu untuk dijadikan komoditas kuliner. Burung-burung tersebut rupanya merupakan jenis burung yang di negara asalnya, yaitu Cina, Rusia dan Jepang adalah satwa yang dilindungi.

 

Mitra antar Negara

 

Negara-negara yang memiliki kepentingan serta menjadi rute terbang burung-burung migran, pada tahun 2006, membentuk sebuah kemitraan. Dengan nama East Asian-Australasian Flyway Partnership (EAAFP), negara-negara tersebut menjalin kerjasama untuk perlindungan burung yang bermigrasi.

 

Kemitraan itu beranggotakan delapan belas negara, enam lembaga antar pemerintah (Intergovermental Organization/IGO), tiga belas LSM internasional, satu organisasi internasional, dan satu perusahaan swasta internasional. Tujuan EAAFP tidak hanya melindungi burung-burung air yang bermigrasi namun juga melindungi kelangsungan hidup penduduk yang matapencaharian mereka bergantung pada keberadaan burung air.

 

Kontribusi  AWC  kepada EAAFP yaitu memberikan data populasi tiap jenis burung air di seluruh dunia. Dalam sidang The International Union for Conservation of Nature (IUCN) akan dijelaskan jumlah populasi mereka bertambah atau berkurang tiap jenisnya. Jika makin berkurang maka akan masuk ke status rentan, terancam punah, atau sangat terancam punah.

 

Untuk burung air dengan status sangat terancam punah atau critical endangered, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akan memberikan prioritas perhatian kepada burung tersebut dibandingkan satwa lain. Bisa saja jenis burung tersebut masuk menjadi burung yang dilindungi.

 

Karena sudah menjadi prioritas maka beberapa lembaga donor kemudian akan melakukan riset lebih lanjut terkait status critical endangered. Dari data tersebut maka bisa dirancang dukungan finansial secara global.

 

Progres dari AWC sendiri dipengaruhi oleh ruang lingkup strategis suatu negara. Di Indonesia, kegiatan sensus yang dilakukan secara rutin hanya di wilayah Sumatera dan Jawa. Berbeda dari negara seperti Malaysia dan Thailand yang memiliki wilayah lebih kecil sehingga mudah untuk memantau.

 

Tentang skema pengelolaan burung-burung air (Waterbirds Management Scheme), Ady Kristanto mengatakan bahwa data di kawasan konservasi lebih ditingkatkan lagi yaitu tiap bulan atau tiga bulan. Hasilnya masih kurang kalau hanya mengandalkan Polisi Hutan atau sumber daya Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di kawasan konservasi yang ada.

 

Jaringan Biodiversity Warrior KEHATI di Indonesia berusaha untuk lebih giat menyumbangkan data setiap tahun. Keterlibatan sains warga seperti BW KEHATI diharapkan bisa semakin bertambah. Hal ini sangat diperlukan sebagai bentuk partisipasi warga untuk perlindungan burung air.

 

Isu tentang kerusakan lingkungan hidup minim perhatian dari masyarakat kita yang sudah terbiasa dengan tujuan jangka pendek. Masyarakat masih belum paham bahwa dampak kerusakan ekosistem burung air dalam jangka panjang bisa menyebabkan manusia kekurangan pangan dan juga menghadapi masalah kesehatan yang sangat buruk. (LV Sulistyo/Tim KEHATI)