508 views Konservasi Bambu di Atas Perbukitan Marmer Merah - KEHATI KEHATI

Konservasi Bambu di Atas Perbukitan Marmer Merah



  • Date:
    31 Jan 2023
  • Author:
    KEHATI

Ngargoretno menyimpan kekayaan tersembunyi di dalam tanah. Desa yang berada di lereng perbukitan Menoreh sisi utara di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang Jawa Tengah itu mengandung bebatuan marmer merah. Warga bergerak untuk menyelamatkan alam mereka dari eksploitasi ekonomi.

 

Barisan penari oblogowor bergerak ritmis mengikuti ketukan kendang, kenong dan seperangkat alat musik tradisional lainnya pada Jumat, (18/11/2022) lalu. Kelompok seni tari tradisional itu ikut menghibur warga desa yang tengah berkumpul di sebuah lahan terbuka untuk mengikuti seremoni penanaman bambu.

 

Lahan seluas 27 hektar telah disiapkan untuk penanaman bambu. Sebanyak 15.875 bibit bambu akan ditanam secara bertahap di lahan tersebut. Selama lima tahun KEHATI memberikan dukungan kepada warga desa Ngargoretno untuk melestarikan bambu. Adapun Kantor Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bekerjasama dengan Forum Komunikasi Direktur Kepatuhan Perbankan (FKDKP) di Jakarta memberikan bantuan bibit bambu kepada warga Ngargoretno.

 

Bambu merupakan tanaman yang sudah lama tumbuh di Ngargoretno. Secara turun temurun bambu telah dimanfaatkan oleh warga desa sebagai material untuk membangun rumah dan mendirikan pagar. Namun peran bambu hanya sebatas itu. Warga belum mampu mengolah bambu menjadi produk yang memiliki nilai tambah sehingga keberadaan bambu sering diabaikan.

 

“Kami giat melakukan konservasi, dalam hal ini bambu, agar masyarakat tidak merusak alam di sini. Kami ingin punya penghasilan tanpa merusak alam. Kalau batu marmer digali, bukit-bukit di sini hancur dan kami akan terpaksa meninggalkan desa kami,” kata Soim, pegiat konservasi di desa Ngargoretno.

 

Soim dan rekan-rekannya memilih mengonservasi bambu karena belakangan ini tanaman bambu sudah kurang diperhatikan masyarakat. “Warga hanya ambil bambu kalau butuh saja untuk membangun rumah.Bambu dianggap tidak punya nilai tambah sehingga tidak ada upaya konservasi bambu,” cetus Soim.

 

Nyatanya bambu memiliki banyak fungsi ekologi diantaranya adalah sebagai tanaman yang mampu menyerap air serta berfungsi menahan longsor. Ngargoretno berada di kontur perbukitan dan memiliki tingkat kemiringan tanah cukup tinggi.

 

Desa ini dihuni sekitar 1.500 kepala keluarga atau 3.500 jiwa lebih. Kondisi geografisnya rentan kekeringan ketika musim kemarau, dan rawan longsor ketika musim hujan berkepanjangan. Oleh karena itu Yayasan KEHATI mendukung upaya konservasi bambu yang dilakukan warga.

 

Tidak Diimbangi Budidaya

 

Bambu di Indonesia mulai terlihat terancam punah akibat tingginya eksploitasi tanpa diimbangi budi daya yang memadai. Persoalan juga muncul akibat alih fungsi lahan yang secara signifikan mengurangi atau memperkecil luasan lahan bambu.

 

Ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem. Padahal, sebagai tuan rumah bagi 160 spesies bambu dari 1.200 – 1.400 spesies di dunia, 88 spesies di antaranya adalah khas Indonesia yang tersebar di seluruh pelosok.

Foto : Wawan H. Prabowo

Menurut Soim, yang juga pegiat BUMD (Badan Usaha Milik Desa), bambu di Ngargoretno merupakan tanaman endemik. Beberapa jenis yang tumbuh di situ adalah bambu petung, bambu ori, bambu apel, dan bambu wulung.

 

“Bambu ditanam memang untuk mencegah bencana longsor, banjir dan kekeringan,” ujarnya. Ia teringat masa kecil dulu pernah mengalami kekurangan air karena warga tidak lagi menanam bambu atau tanaman lain yang mampu menyerap air hujan ke dalam tanah.

 

Bagi wilayah hutan terbuka atau gundul akibat penebangan, bambu efektif untuk program reboisasi. Pada kondisi tersebut, bambu tidak hanya berperan sebagai penahan erosi tapi juga memperbaiki sumber tangkapan air sehingga meningkatkan aliran air bawah tanah.

 

Selain itu bambu juga mampu meredam suara dan menghasilkan banyak oksigen sehingga bagus ditanam di pusat pemukiman. Bambu tumbuh sangat cepat, dalam sehari bisa tumbuh sepanjang 60 cm atau lebih, tergantung pada kondisi tanah tempatnya ditanam.

 

Dengan mempertimbangkan seluruh manfaatnya bagi konservasi dan pencegahan bencana itulah maka warga desa Ngargoretno sepakat memilih menanam bambu.

 

Pranata Mangsa

 

Sesuai sifatnya yang lentur, bambu juga memberikan banyak manfaat ekonomi bagi masyarakat. Hanya saja dibutuhkan tambahan ketrampilan agar bambu bisa memiliki nilai jual lebih, tidak hanya sebagai material bangunan saja.

 

Berbagai upaya dilakukan Soim dan rekan-rekannya pegiat konservasi untuk memberikan nilai tambah pada bambu. Salah satunya adalah mendorong warga untuk berkarya dengan bambu.

 

Muklis perajin bambu gitar dari desa Ngargoretno. Saat menebang bambu, Muklis menerapkan sistem pranata mangsa (Foto : Wawan H. Prabowo)

Muklis (35) salah satu warga desa Ngargoretno yang juga seorang musisi, mencoba membuat gitar dari bambu. Gitar tersebut dibuat Muklis selama hamper satu bulan karena ia hanya mengandalkan alat seadanya, termasuk untuk membuat lekuk-lekuk kerangka gitar agar memiliki resonansi yang pas.

 

“Saya tidak menggunakan bahan kimia untuk mengawetkan bambu yang saya pakai untuk gitar. Agar bisa awet secara alami, saya menerapkan kearifan lokal pranata mangsa saat menebang bambu,” tutur Muklis.

 

Pranata mangsa merupakan sistem penanggalan Jawa yang menjadikan alam sebagai petunjuk tentang apa yang harus dilakukan oleh petani. Ketika hendak menanam atau panen, petani memiliki penanggalan sendiri yang disesuaikan dengan kondisi alam. Hal itu berlaku juga untuk musim menebang bambu.

 

Bambu yang dipakai Muklis ditebang sesuai aturan pranata mangsa tadi. Cara itu, menurut Muklis, menjadikan bambu awet secara alami. Batang bambu yang sudah ditebang tidak akan terkena hama yang membuat batang bambu rapuh dan mengeluarkan bubuk.  Ia menunjukkan tumpukan batang bambu yang sudah ditebang dua tahun lalu, namun masih utuh tidak lapuk.

 

Ia dan Soim bercita-cita, kerajinan bambu dari Ngargoretno suatu saat bisa banyak diperdagangkan di kawasan wisata Borobudur.  Bambu asli Ngargoretno menghasilkan manfaat ekonomis cukup tinggi karena banyak digunakan untuk memproduksi rangka atap bangunan, pagar dan dinding rumah. Selain itu ada juga alat musik tradisional, kuliner rebung bambu, sumpit, tusuk sate, tusuk gigi, gazebo, alat tangkap ikan, dan aneka perkakas rumah.

 

(Penulis: Armunanto/Lusiana Indriasari/Tim KEHATI).