72 views Pembibitan Terumbu Karang dengan Modul Coral Tree Nursery di Kepulauan Spermonde Makassar - KEHATI KEHATI

Pembibitan Terumbu Karang dengan Modul Coral Tree Nursery di Kepulauan Spermonde Makassar



Foto Ilustrasi Terumbu Karang, Sumber : Shutterstock

  • Date:
    21 Okt 2023
  • Author:
    KEHATI

Terumbu karang adalah ekosistem yang pertama terdampak pemanasan global akibat dari perubahan iklim. Hilangnya fungsi ekosistem terumbu karang berbanding lurus dengan disfungsi semua ekosistem laut yang menuju peningkatan abrasi dan mengancam kehidupan masyarakat wilayah pesisir.

 

Ikan, moluska, dan biota laut memiliki adaptasi di masing-masing tempat yang terkoneksi dalam satu kesatuan ekosistem. Jika terumbu karang rusak, maka pendapatan dari sektor perikanan akan mengalami penurunan yang drastis. Ikan-ikan yang bertelur di daerah mangrove akan kehilangan makanan dan tempat berlindung. Ekosistem terumbu karang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa pulih. 

 

Oleh karena itu yayasan KEHATI bekerja sama dengan para CSR berupaya menyelamatkan masa depan masyarakat pesisir dengan upaya restorasi dan rehabilitasinya. Berbeda dengan metode rumah pembibitan terumbu karang sebagai awal kegiatan restorasi di Pulau Sangiang, pembibitan terumbu karang di Makasar menggunakan modul Coral Tree Nursery (CTN). Modul ini berdiri vertikal dan pada saat tumbuh nanti akan berbentuk seperti pohon.

 

Yayasan KEHATI yang bekerja sama dengan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) memberikan sumbangan 10 modul CTN. Restorasi terumbu karang Makasar juga mendapat dukungan dana dari KPEI total hampir 200 juta rupiah. Target dari restorasi ini adalah pembibitan saja, namun apabila ada yang mau mendanai maka bisa dilanjutkan ke tahap transplantasi. Dana dari KPEI ini hanya satu kali termin, apabila pihak KPEI masih bersedia untuk mendukung kegiatan pembibitan ini, maka diperlukan negosiasi ulang.

 

“ Porsi dana terbesar dari kegiatan konservasi ini adalah pada biaya perawatan. Sebelum kegiatan di mulai terlebih dahulu diadakan seremoni besar-besaran dengan tujuan sebagai advertensi kepada masyarakat dan bisa menjadi tempat penelitian serta obyek wisata,” ungkap Manajer Program Kelautan yayasan KEHATI.

 

Lokasi restorasi terumbu karang di Makasar yaitu Barrang Caddi dan Barrang Lompo. Di Barrang Caddi dan Barrang Lompo ini masing-masing ada 10 modul. Jadi total modul yang ada 30, 20 di Barrang Lompo dan 10 di Barrang Caddi. Modul yang ada di Barrang Caddi ini merupakan replikasi modul yang ada di Barrang Lompo yang dipindahkan. 

 

Tempat pembibitan diperbanyak untuk menyediakan bibit-bibit unggul terumbu karang yang akan mendukung kegiatan transplantasi tanpa harus mengambil dari alam. Ke depan akan dibentuk komunitas yang beranggotakan para penyelam dan bertugas untuk merawat terumbu karang yang sudah ditanam.

 

Komunitas para penyelam ini adalah pemuda-pemuda dari Barrang Caddi dan Barrang Lompo yang akan didampingi oleh yayasan PINISI sebagai penerima hibah dari yayasan KEHATI. Para akademisi yang notabene kumpulan dosen-dosen, aktivis, wartawan juga akan dirangkul untuk membantu kelompok-kelompok pemuda tersebut terutama dalam tata kelola dan administrasi. Untuk perawatan 1 CTN minimal dibutuhkan 3 orang. Pertumbuhan coral lumayan cepat yaitu 1 tahun. Dari dana hibah yayasan KEHATI ini, kegiatan transplantasi diutamakan untuk menambah spesies supaya semakin beragam jenis terumbu karang yang ada di Barrang Caddi dan Barrang Lompo.

 

Pembibitan anakan terumbu ini merupakan awal proses restorasi sebelum masuk tahap transplantasi. Oleh karena itu menjadi sangat penting untuk memilih bibit unggulan yang mampu menghasilkan kualitas baik. Terumbu karang di Indonesia masuk dalam kategori buruk, apabila transplantasi mengambil bibit dari alam maka akan menurunkan kualitas terumbu karang yang akan tumbuh. 

 

Bibit dari alam tersebut belum tentu bagus dan masih memerlukan waktu untuk beradaptasi. Tidak banyak coral yang bagus dan diambil untuk pembibitan transplantasi. Menurunnya kualitas bibit dari alam banyak disebabkan oleh semakin berkurang tutupannya karena diambil dan rusak. Juga aktivitas pengeboman, wisata dan kapal membuat coral banyak yang patah. Bibit dari alam yang masih bagus tidak boleh banyak diambil supaya tumbuh secara alami.

 

Karena Makasar baru pertama kali melakukan konservasi terumbu karang, maka dipilih metode pembibitan modul CTN dengan harapan akan mampu memperoleh manfaat ekologi secara maksimal. Selain itu, tujuan dari pembibitan ini agar siapapun yang melakukan transplantasi tidak mengganggu habitat aslinya. Bentuk vertikal dari modul CTN ini mampu menghasilkan terumbu karang yang jauh lebih banyak dan bisa menjadi obyek wisata karena bentuknya yang indah. Konservasi terumbu karang menggunakan 10 bibit dari jenis yang berbeda. Bibit Acropora paling mudah tumbuh membutuhkan waktu 7 bulan dengan maksimal ketinggian 5 cm pada tahun pertama. Oleh sebab itu terumbu karang mudah sekali rusak.

 

Modul CTN mampu memberikan dampak positif antara lain mulai terbentuknya ekosistem dengan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sektor perikanan mulai bangkit dengan hasil tangkapan cumi-cumi 8 kilogram per hari, yang sebelumnya hanya 1 kilogram. Masyarakat kemudian berinisiasi untuk membuat kesepakatan bahwa hanya ikan-ikan tertentu saja yang boleh dipancing dan dilarang menggunakan alat seperti pukat. Berenang, snorkeling dan menyelam harus dipandu oleh tim dari pengelolanya. Hal ini dimaksudkan agar ekosistem terumbu karang yang sudah mulai terbentuk tetap terpelihara.

 

Selain wilayah Kepulauan Spermonde di Makassar, target kegiatan konservasi terumbu karang di Indonesia sebenarnya masih banyak seperti Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Pulau Jawa sendiri menghadapi kendala dari ekosistemnya yang sudah sulit sedangkan transplantasi di pantai utara dan selatan cukup berbahaya. Konservasi terumbu karang kurang menarik minat para CSR. 

 

Mereka lebih banyak mengalirkan dana untuk kegiatan konservasi mangrove. Perbandingan antara keduanya 10:2, karena masih banyak masyarakat yang tidak menyadari manfaat dari pelestarian terumbu karang terutama sebagai pencegah abrasi. Selain itu, setiap ekosistem di wilayah pesisir memiliki fungsi masing-masing. Apabila salah satu saja rusak, maka ekosistem lainnya juga akan terancam.

 

Ke depan, yayasan KEHATI bersama masyarakat di Barrang Lompo dan Barrang Caddi untuk memastikan secara sains perkembangan yang dicapai. Apabila ditemukan ada terumbu yang rusak, maka akan langsung diusahakan untuk penyelaman. Diharapkan pihak pengelola tetap akan memberikan kontribusi karena misi konservasi ini untuk mendorong ekosistem yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat di wilayah pesisir. Pulau Sangiang dan Makasar merupakan 2 wilayah terobosan KEHATI karena berada di luar Pulau Jawa. Program reguler ini lebih banyak beraktivitas di luar pendanaan besar supaya local champion bisa mendapatkan manfaatnya juga.

 

LVListyo (Tim KEHATI)