213 views Penelitian Laba-laba di Suaka Margasatwa Paliyan - KEHATI KEHATI

Penelitian Laba-laba di Suaka Margasatwa Paliyan



Kelompok anak muda Yogyakarta melakukan kegiatan penelitian laba-laba di kawasan Suaka Margasatwa Paliyan. Spesies laba-laba belum banyak dikaji manfaat dan fungsi ekologis nya bagi kehidupan

  • Date:
    25 Agu 2023
  • Author:
    KEHATI

Spesies laba-laba belum banyak dikaji manfaat dan fungsi ekologi nya bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Keberadaan laba-laba banyak diabaikan karena dianggap sebagai hewan yang menakutkan. Padahal hewan berkaki delapan ini memiliki peran sangat penting bagi keseimbangan ekosistem. Laba-laba juga dinilai terancam oleh perubahan ekosistem seperti pembangunan rumah atau deforestasi.

 

Hal inilah yang menggelitik sekelompok anak muda dari Yogyakarta untuk meneliti dan mempelajari varian laba-laba. Kelompok Bernama Kalamangga ini meneliti laba-laba di kawasan Suaka Margasatwa Paliyan di Kabupaten Gunung Kidul. Penelitian ini didukung oleh Biodiversity Warrior (BW) KEHATI melalui program sponsor 2022.

 

Kalamangga merupakan contoh sains warga yang melibatkan para relawan sebagai peneliti. Wakil Ketua Kalamangga, M. Ikhsan Al Ghazi Naufal mengatakan, Suaka Margasatwa Paliyan dipilih karena belum ada kegiatan penebangan hutan serta masih banyak flora non endemik atau hutan primer. Suatu ekosistem dengan tumbuhan yang bukan tanaman asli sangat memungkinkan bagi munculnya habitat laba-laba dari berbagai spesies. Dari hasil penelitian tersebut telah terbukti bahwa banyak spesies laba-laba yang akhirnya tinggal di sana.

 

Laba-laba biasanya berhabitat di kawasan dengan banyak pepohonan atau di tempat yang lembab. Semakin banyak variasi pohon, akan semakin banyak ditemukan spesies-spesies laba-laba. “ Tempat penelitian di Yogyakarta sebenarnya banyak, karena banyak wilayah yang masih hijau. Di tempat wisata pun juga banyak ditemukan laba-laba. Rencana penelitian kami selanjutnya adalah wilayah

 

Tantangan penelitian

 

Beberapa tantangan yang ditemui ketika melakukan penelitian antara lain kapasitas mereka dalam memahami referensi yang sebagian besar menggunakan bahasa Inggris. Ketika belum lancar dalam berbahasa Inggris, akan sulit untuk mempelajari laba-laba. Selain itu alat yang mereka miliki belum memadai sebagai sarana penelitian.

Penentuan spesies laba-laba yang berukuran kecil sulit dilakukan jika hanya menggunakan mikroskop stereo. Meskipun ukurannya dapat dilihat secara kasat mata, penentuan spesies laba-laba tidak berdasarkan fisiologinya. Untuk beberapa spesies penentuan harus melibatkan pengamatan genetal. Hal ini disebabkan pertumbuhan laba-laba mulai dari kecil hingga dewasa akan mengalami perubahan bentuk badan.

 

“ Bahkan yang satu spesies, jantan dan betina kadang-kadang berbeda bentuk dan warnanya. Itulah yang membuat kami kesulitan. Jadi tetap harus dibawa ke laboratorium,” kata Ikhsan. Ketika mengambil spesimen laba-laba, pegiat Kalamangga tidak merasa kesulitan. Tantangannya lebih disebabkan kesulitan untuk menentukan waktu berkumpul karena kesibukan masing-masing. Ketika melakukan penelitian di Suaka Margasatwa Paliyan Kalamangga membagi wilayah penelitian yaitu ekosistem yang dekat dengan rawa-rawa, ekosistem yang ada di hutan sekunder, kemudian ekosistem di perkampungan warga.

 

Kawasan laba-laba cukup luas, satu transek dapat diasumsikan bahwa sekitar 1 atau 2 kilometer di sekitarnya terdapat spesies laba-laba tersebut. Transek adalah jalur yang digunakan untuk menghitung dan mencatat kemunculan objek-objek penelitian.

 

Setiap ekosistem terdiri dari empat orang yang bertugas dokumentasi foto dan mendata spesies. Sebagai kelompok yang merasa masih awam tentang laba-laba, kesulitan mereka selanjutnya adalah menentukan apakah spesies tertentu perlu diambil atau tidak, sudah dewasa atau masih kecil. Kesulitan tersebut memaksa mereka untuk menghubungi orang-orang yang lebih paham tentang laba-laba.

 

Penelitian laba-laba paling mudah dilakukan malam hari, di mana mata laba-laba akan berbinar ketika terkena lampu senter, sehingga mempermudah untuk mengetahui posisi mereka di lingkungan tersebut. Ada beberapa spesies yang aktif di siang hari bahkan keduanya. Spesies Salticidae (jumping spiders), misalnya,  yang aktif di siang hari bergerak cepat dan bisa meloncat, sedangkan laba-laba yang aktif di malam hari cenderung spesies yang membuat sarang untuk menunggu mangsanya.

 

Laba-laba Beracun

 

Para pegiat Kalamangga menemukan satu spesies laba-laba beracun di Suaka Margasatwa Paliyan. Cara mengambil laba-laba harus menghindari memegang area abdomen,tanpa menggenggam terutama menggunakan tangan langsung.

 

Ketika seekor laba-laba terjepit di area abdomen, mereka akan merasa tertekan dan ketakutan. Laba-laba yang sudah diambil kemudian ditaruh dalam botol urine kemudian disimpan dalam botol vial ukuran 10 ml atau tergantung ukuran mereka. Gigitan laba-laba beracun bisa mengakibatkan pembusukan pada tangan manusia.

 

Jenis laba-laba beracun biasanya ditemukan dalam gua, sehingga kecil kemungkinan untuk menyerang warga. Kalamangga mendapatkan informasi dari pegiat konservasi Yogyakarta bahwa di seputaran bandara NYIA Kulon Progo terdapat laba-laba yang cukup berbisa Redback Spider.

 

Meskipun begitu laba-laba bukan makhluk yang menyerang manusia. Jadi laba-laba tidak akan menggigit kalau mereka tidak merasa terganggu. Penelitian laba-laba untuk family tertentu seperti jenis tarantula sangat minim, bahkan belum ada.

 

Pegiat laba-laba masih sedikit dan sebagian besar hanya melakukan pengolahan data spesies laba-laba di kawasan tertentu. Di Indonesia sendiri, populasi Teraposide ini masih jarang ditemui. Hanya di kawasan Jatimulyo Kabupaten Kulonprogo pernah ditemukan satu ekor.

 

Untuk mengetahui luas jelajah hewan arthropoda tersebut cukup sulit karena setiap spesies memiliki keunikan masing-masing. Ada jenis yang terbang menggunakan jaring mengikuti arah angin. Hampir semua laba-laba yang masih kecil berpindah dengan cara seperti itu.

 

Mereka menggunakan jaring yang dihembuskan oleh angin dan akan terjun di zonanya masing-masing. Ketika menginjak dewasa ada beberapa dari mereka yang kemudian bersarang dan ada yang tidak. Laba-laba yang bersarang kemungkinan mereka hanya akan tinggal di wilayah dalam satu ekosistem. Laba-laba yang menetap akan mencari mikro habitat sesuai dengan ekosistem yang mereka tinggali. Jadi daya jelajah per individu memang agak sulit ditentukan. Tetapi setiap spesies dapat diasumsikan sekitar 1 sampai 2 kilo.

 

Menurut Ikhsan, terdapat jenis laba-laba yang mampu menghasilkan benang berwarna emas dan bisa digunakan untuk bahan membuat kain, yaitu spesies Nephila Pilipes yang berukuran besar. Namun pemanfaatan jaring laba-laba untuk pakaian akan berujung pada eksploitasi yang akan membuat spesies ini mengalami stres.

 

Pemanfaatan laba-laba untuk kebutuhan manusia atau sektor industri dinilai kurang ekonomis. Mungkin ke depannya sebagai opsi untuk kebutuhan industri fashion, bisa dilakukan rekayasa genetika terhadap jamur. Teknik ini merekayasa jamur untuk bisa menghasilkan benang serupa dengan jaring laba-laba.

 

Tetapi, dalam pandangan Ikhsan, laba-laba memiliki potensi wisata. Misalnya saja dibuat museum yang memuat spesies-spesies yang hidup di kawasan tersebut. Atau bisa juga sebagai penyaluran bakat bagi mereka yang suka dengan fotografi.

 

“ Konservasi terhadap laba-laba tidak bisa hanya konservasi terhadap laba-laba itu sendiri. Kita perlu melakukan konservasi terhadap lingkungan juga, karena memang hal yang paling utama di konservasi itu ada di lingkungannya. Kami berharap laba-laba dapat menjadi sumber pengetahuan bagi kita semua dan lebih banyak lagi masyarakat yang mau terlibat dalam pelestarian keanekaragaman hayati termasuk laba-laba,” Ikhsan mengakhiri penjelasannya.

LV Listyo (Tim KEHATI)