168 views Opini : “Presbytis”, Primata yang Indah Namun Kurang Diminati Peneliti di Bidang Ekologi - KEHATI KEHATI

Opini : “Presbytis”, Primata yang Indah Namun Kurang Diminati Peneliti di Bidang Ekologi



Lutung simpai (Prebytis melalophos)-kiri, dan lutung kokah (Presbytis femoralis)-kanan, dua jenis Presbytis yang terdengar umum namun nasib data dan informasi ekologinya masih tidak menentu (Foto: sutopo) (Foto dok/ Sutopo)

  • Date:
    30 Jan 2024
  • Author:
    KEHATI

 

Oleh : Sutopo (Peneliti, Pemerhati dan Staff pengajar di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University)

 

Keprihatinan dunia konservasi bukan hanya pada kelompok satwa prioritas tetapi pada spesies yang memang tidak ada update data dan informasi di bidang ekologi, prilaku, persebaran dan kondisi metapopulasi saat ini. Kita sangat bangga bahwa spesies dari kelompok Presbytis di Indonesia lebih dari 35 jenis. Namun berapa persen yang memiliki informasi dan data terhadap berbagai parameter ekologi yang lengkap dan kekinian? sebutlah surili jawa (Presbytis comata), lutung merah (Presbytis rubicunda) dan surili sumatra (Presbytis melalophos) sudah sangat banyak parameter ekologi yang diteliti.

 

Lalu bagaimana dengan Presbytis yang lain? Kita tidak bisa mengandalkan mengumpulkan data dan informasi ekologi dari mahasiswa yang melakukan penelitian. Terkadang kita ingin mengusulkan suatu jenis ingin menjadi jenis yang dilindungi tetapi masih terkendala dengan data dan informasi mengenai populasi, persebaran dan ekologi di habitat alaminya. Sehingga, tahap awal dalam upaya konservasi yaitu melindungi spesies belum tercapai. Sebenarnya tidak mengapa jika suatu jenis tidak dilindungi dengan harapan populasi dan persebarannya di habitat alaminya masih melimpah dan tidak ada gangguan langsung dan tidak langsung yang berdampak pada penurunan populasi.

 

Namun, jika tidak ada yang melakukan update data mengenai berbagai parameter bio-ekologi di habitat alaminya, bagaimana upaya konservasi dapat terus dilakukan? Sebut saja kelompok Presbytis yang memilki persebaran berada pada habitat di dalam kawasan konservasi dan kawasan lindung yang dikelola oleh pemerintah maupun unit manajemen suatu perusahaan, kelompok Presbytis pada kawasan tersebut mungkin masih beruntung kondisi populasi dan habitat tidak mengalami pressure yang begitu tinggi, meskipun kondisi di lapang sebenarnya sangat bervariasi. Sehingga dinamika populasi yang dialami oleh lutung merupakan proses alami dari interaksi intra dan inter spesifik di dalam habitat insitu yang menjadi persebarannya.

 

Nampaknya, perhatian kita terhadap dunia konservasi masih fokus untuk kelompok satwa prioritas terutama kelompok mamalia besar dan kelompok satwa kritis. Selain itu, sangat disayangkan minat meneliti terhadap kelompok Presbytis semakin berkurang. Sebagai contoh adalah menyikapi situasi yang terjadi saat ini yaitu berkaitan dengan minat meneliti di bidang satwa liar di kalangan mahasiswa benar-benar sangat memprihatinkan. Efek samping dari COVID-19 nampaknya masih dirasakan terhadap penurunan minat meneliti satwa terutama kelompok primata. Kecenderungan meneliti bergeser ke arah topik yang tidak ada kaitannya dengan satwa, terutama berkaitan dengan kegiatan wisata, sosial dan budaya.

 

Jika menelaah terhadap ekologi pakan dari kelompok Presbytis bahwa primata dari jenis ini memiliki komposisi pakan berupa buah dan biji yang lebih besar dibandingkan dengan diet harian lainnya terutama daun. Bayangkan, jika mereka memakan biji-bijian yang tidak dapat dicerna dan pada akhirnya akan dikeluarkan lagi dalam bentuk biji setelah melalui proses fermentasi dalam saluran pencernaan. Bukankan itu bagus secara alami untuk mempercepat proses perkecambahan dan pada akhirnya membantu proses permudaan alami struktur dan komunitas tegakan di habitat yang menjadi persebarannya. Tanpa kita sadari mereka benar-benar memiliki peran ekologi yang sangat penting, entah sampai kapan kita mau mengakui bahwa kita membutuhkan mereka sebagai teman hidup yang tanpa pamrih.

 

Tidak sedikit jenis dari kelompok Presbytis pada wilayah yang menjadi persebarannya terutama yang berada pada habitat Pulau utama (main land) Kalimantan, Sumatra dan Jawa diketahui sering memasuki areal perkebunan terutama kebun karet. Mereka terpantau memakan biji karet dan pucuk daun yang masih muda. Lantas kenapa jika mereka memakan itu? Apakah kita akan menyimpulkan bahwa mereka lebih preference berada pada habitat kebun karet? mari kita bayangkan lagi mengenai peran ekologi mereka.

 

Kita tahu bahwa karet merupakan jenis eksotik yang sangat cocok dengan iklim tropis di Indonesia. Tumbuh subur dan relatif mudah ditanam dan hasil getah karetnya memberikan manfaat ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat dan pendapatan negara selama bertahun-tahun. jika mereka tidak memakan biji karet dan daun muda, maka yang terjadi adalah invasi karet liar menyebar kemana-mana. Perlu kita ingat bahwa karet selain eksotik juga merupakan tanaman invasif. Dengan kehadiran primata dari kelompok Presbytis setidaknya kita sudah terbantu oleh mereka dalam pengendalian jenis tanaman yang eksotik dan invasif.

 

Fakta keindahan lain dari Presbytis adalah dapat dilihat dari bentuk dan warna tubuh. Setiap jenis memiliki variasi warna yang unik yang berbeda, namun pada umumnya ada karakter yang hampir sama untuk membedakan kelompok Presbytis dengan primata dari kelompok lain yaitu pada bagian sekitar kelopak mata dan bentuk rambut yang mohawk. Warga Sumatra terutama yang berada di wilayah Riau menyatakan bahwa mereka mengenal lutung ini dengan sebutan monyet kacamata. hampir semua jenis dari kelompok Presbytis memiliki ciri fisik pada bagian sekitar mata Nampak seperti menggunakan kacamata, dan ciri tersebut merupakan satu ciri pembeda dengan primata dari kelompok lain.

 

Statement terakhir dalam opini ini yang ingin saya sampaikan adalah sudah seharusnya kita sering mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan begitu banyak variasi jenis Presbytis di sekitar kita dengan begitu banyak peran ekologi yang diberikan. Namun sayang kita sendiri masih malas untuk mempelajarinya.  Dengan kita mempelajari semua parameter yang berkaitan dengan bio-ekologi mereka, setidaknya kita sudah menjadi bagian dari manusia yang tau harus berteri makasih dan memahami keagungan Tuhan dengan berbagai ciptaan primata di dunia ini.