54 views Restorasi Terumbu Karang Pulau Sangiang Menggunakan Teknik Transplantasi - KEHATI KEHATI

Restorasi Terumbu Karang Pulau Sangiang Menggunakan Teknik Transplantasi



Foto Ilustrasi Terumbu Karang, Sumber : KEHATI

  • Date:
    09 Okt 2023
  • Author:
    KEHATI

Hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia, status terumbu karang masuk kategori buruk. Salah satu upaya pemulihan untuk memperbaiki kondisinya adalah dengan teknik transplantasi. Terumbu karang di Pulau Sangiang yang terletak di Selat Sunda merupakan wilayah Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Asahimas dan sudah merestorasi serta merehabilitasi terumbu sejak tahun 2018. 

 

Status Pulau Sangiang merupakan Taman Wisata Alam (TWA) dengan opsi eko wisata selain sebagai tempat persinggahan para nelayan yang sudah tidak banyak lagi melakukan aktivitas penangkapan ikan. Pengawasan di Pulau Sangiang yang dikelola oleh BBKSDA ini berpengaruh pada aktivitas penangkapan ikan yang lebih terpantau. Cara menangkap ikan dengan menggunakan bom sudah tidak ada lagi karena berkembangnya teknologi seperti telepon seluler yang bisa merekam aktifitas terlarang tersebut. Masyarakat juga semakin sadar untuk tidak mengkonsumsi ikan hasil pengeboman. 

 

Menurut Manajer Program Kelautan yayasan KEHATI Toufik Alansar, target restorasi sebenarnya di atas lahan seluas 1 hektar, namun baru mencapai luasan 600 m2 yang tercover. Restorasi terumbu karang di Pulau Sangiang merupakan koalisi antara PT. Asahimas dengan yayasan KEHATI. Perusahaan yang berlokasi di kota Cilegon tersebut telah memberikan dukungan dana sebesar 500 juta rupiah untuk kegiatan penanaman sekaligus monitoring. Sejak dimulai kegiatan restorasi hingga sekarang, terumbu karang mencapai eskalasi menuju pada fungsi ekosistemnya. Untuk sisa lahan yang belum tertangani, diharapkan PT. Asahimas bersedia kembali berpartisipasi secara finansial. 

 

Khusus dalam program pelestarian terumbu karang di Pulau Sangiang ini yayasan KEHATI hanya bekerja sama dengan PT. Asahimas tanpa melibatkan CSR yang lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari timbulnya over claim, dan apabila ada perusahaan lain yang tertarik untuk melakukan restorasi terumbu karang maka akan dicarikan lokasi yang lain.

 

PT.Asahimas merasa bertanggung jawab secara sosial dan memiliki kepentingan untuk melakukan restorasi dan rehabilitasi terumbu karang di Pulau Sangiang. Limbah dari aktifitas pembangunan di Cilegon dan pesisir Pulau Banten pasti akan berpengaruh pada ekosistem laut di pulau tersebut. Sebagai akibatnya, kerusakan terumbu karang di wilayah Sangiang akan berdampak langsung pada kota Cilegon. Gelombang arus yang masuk dari Selat Sunda akan tertahan oleh ekosistem pesisir Pulau Sangiang sehingga melindungi kota Cilegon. Apalagi, ekosistem di wilayah darat dan laut Pulau Sangiang termasuk yang paling bagus selain Ujung Kulon.

 

Restorasi  terumbu karang dengan teknik transplantasi dilakukan menggunakan media PVC atau semen agar fragmen karang yang hidup bisa berkembang terus. Bisa juga dengan media batu yang ditumpuk. Meskipun gelombang membuat fragmen-fragmen tersebut jatuh dan banyak yang mati, tapi ada beberapa fragmen terumbu yang masih hidup dan akan secara alami tumbuh kembali. 

 

Transplantasi terumbu karang dilakukan dengan metodologi potong tempel dengan media berbentuk segitiga dan meja mendatar. Karena berada di Selat Sunda, arus yang berada di sekitar Pulau Sangiang termasuk arus yang berbahaya. Oleh sebab itu, di Pulau Sangiang ini, media transplantasi yang dipilih adalah bentuk segitiga karena bisa bertahan pada arus bawah yang sangat kencang.  

 

Terumbu karang ini merupakan kumpulan organisme yang disebut polip dan menempel pada media. Pada 1 karang terdapat ribuan polip di dalamnya. Mereka hidup dengan cara berfotosintesis. Polip bertelur pada malam hari kemudian mencari media untuk menempel. Ada juga yang berkumpul terpisah untuk membentuk terumbu sendiri. Terumbu karang bersimbiosis dengan ikan-ikan yang memakan lumut yang menempel pada terumbu karang tersebut. Habitat ekosistem terumbu karang mulai dari 0,5 meter sampai 100 meter. Ketinggian 0,5 meter itu terendam  pada waktu pasang akan tetapi kalau terekspos ketika air laut surut. Pertumbuhan anakan terumbu dipengaruhi oleh kemampuan sinar matahari menembus kedalaman laut untuk melakukan fotosintesis.

 

Sebagai salah satu dari tiga ekosistem di wilayah pesisir selain mangrove dan padang lamun, terumbu karang memiliki fungsi sebagai penahan gelombang atau ombak. Terumbu karang yang pertama memecah ombak sehingga energi dari ombak tersebut berkurang sebelum menuju mangrove. Meskipun tiga ekosistem di wilayah pesisir ini sangat penting, tetapi ko aksi yayasan KEHATI dan PT. Asahimas lebih mendorong pada kelestarian terumbu karang sebagai garda terdepan dan mangrove sebagai ekosistem penjaga wilayah paling belakang. Sedangkan padang lamun lebih banyak diperuntukkan sebagai penyedia makanan bagi biota dan hewan laut serta penyerap karbon selain mangrove. 

 

Terumbu karang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Apabila arus gelombang terdampak oleh suhu yang terlalu tinggi, maka terumbu karang akan mengalami bleaching. Terumbu karang akan hidup apabila suhu udara sesuai dengan yang dibutuhkan. Selain itu, biota Bintang Berduri atau Acanthaster planci ketika menggerus karang maka akan menyebabkan bleaching. Coral bleaching di Pulau Sangiang banyak disebabkan oleh Acanthaster planci.

 

“ Terumbu karang akan ketahuan apakah dia bleaching karena suhu yang tinggi, Bintang Berduri atau sianida untuk menangkap ikan, “ lanjut Toufik. 

 

Progres dari kegiatan transplantasi tersebut semakin baik, karena coralnya sudah berkembang dengan membentuk asosiasi seperti ikan dan biota lainnya. Sebagai destinasi baru, ekowisata terumbu karang juga mulai dilirik para wisatawan. Dulu lokasi di wilayah itu tidak terlalu bagus, namun semenjak ada transplantasi semakin banyak terumbunya. Sebelum dilakukan transplantasi, kualitas terumbu karang di wilayah perairan Pulau Sangiang sangat kurang. 

 

Sekarang fragmen karang sudah banyak yang tumbuh merambat dan bentuknya memanjang. Kerusakan terumbu karang Pulau Sangiang diakibatkan aktivitas pemanfaatan ikan yang tidak berkelanjutan dengan menggunakan bom. Selain itu faktor alamiah juga menjadi pemicu seperti gempa, gelombang dan surut air laut yang membuat terumbu karang mengering hingga mengakibatkan rontok. Kegiatan transplantasi dilakukan untuk mempercepat proses restorasi secara alami dari ekosistem terumbu karang. 

 

LVListyo (Tim Penulis KEHATI)