514 views Sagu Memenuhi Kebutuhan Pangan Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan – KEHATI KEHATI

Sagu Memenuhi Kebutuhan Pangan Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan

  • Date:
    16 Okt 2021
  • Author:
    KEHATI

Oleh:

Dosen Gastronomi STP Trisakti

Dr. Saptarining Wulan

 

 

Menyambut Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober, beberapa negara di dunia termasuk Indonesia ikut memperingatinya.  Begitu pentingnya pangan bagi manusia sehingga perlu diperingati untuk mengingatkan kita semua bahwa pangan merupakan hak asasi manusia yang mendasar.  Berbagai acara diselenggarakan untuk memperingati hari tersebut setiap tahunnya, dengan topik yang biasanya terkait dengan kondisi pangan dunia yang terjadi pada saat itu. Seperti halnya tahun 2020 kemarin, masih dalam kondisi pandemik Covid-19, tema yang diusung adalah “Grow, Nourish, Sustain, Together”. Pada saat pandemik, dimana keluarga hanya tinggal di rumah, maka jasa petani lah yang sangat ditunggu untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap keluarga. Pada saat itu juga muncul budaya yang baik di setiap keluarga, yaitu budaya menanam, entah itu menanam bunga-bunga dalam pot maupun sayur-sayuran di pekarangan rumah untuk dikonsumsi keluarga.

 

Untuk tahun ini 2021, dimana negara-negara di dunia masih mengalami masa pandemik, FAO menyampaikan tema untuk Hari Pangan Sedunia yaitu “Our actions are our future-Better production, better nutrition, a better environment and a better life”.  Pangan yang kita pilih dan kita konsumsi akan mempengaruhi kesehatan kita dan juga bumi kita.  Hal ini akan berdampak pada sistem pertanian pangan. Sekjen PBB pada acara Food System Summit pada bulan September menekankan untuk memulai melakukan perubahan cara memproduksi dan mengonsumsi pangan untuk mencapai program Sustainable Development Goals (SDGs).

 

Terkait dengan teori Thomas Robert Malthus yang menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan pertumbuhan pangan mengikuti deret hitung, maka apabila tidak ada upaya dalam pengembangan tanaman pangan maka akan terjadi kelaparan. Apalagi dengan berlangsungnya climate change, pertanian pangan lah yang paling sensitif terkena dampaknya. Hal tersebut terjadi di semua negara di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Jumlah penduduk terus meningkat yang tentunya diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan pangan dan tempat tinggal. Alih fungsi lahan juga tentunya terus meningkat. Lahan subur berubah fungsinya menjadi perumahan dan industri, sedangkan lahan pertanian berpindah ke lahan marjinal yang memerlukan perlakuan khusus untuk menghasilkan produksi pertanian pangan yang lebih baik. Bahkan lahan hutan juga berubah fungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Khususnya untuk pertanian pangan dan perumahan.

 

Oleh karena itu, perlu adanya tanaman pangan yang memiliki produktivitas tinggi, dapat hidup di lahan subur maupun marjinal dengan sedikit upaya perawatan, tidak merusak lingkungan, dan tahan terhadap dampak perubahan iklim. Tanaman pangan yang memenuhi kriteria seperti ini pada umumnya adalah tanaman asli setempat, dimana pertumbuhannya cocok dengan vegetasi alam di lokasi tersebut. Seperti halnya di Indonesia, salah satu tanaman asli Indonesia (indigenous plant) yang memiliki cadangan karbohidrat yang disimpan di dalam batangnya adalah pohon sagu (Metroxylon Robb. sp). Sagu diyakini sebagai makanan pokok pertama di Indonesia yang keberadaannya telah ada ribuan tahun yang lalu, dengan bukti ditemukannya relief berupa pohon sagu di candi Borobudur dan Sriwijaya. Pertumbuhan pohon sagu berupa hutan sagu tersebar dari Sabang sampai Merauke., namun sampai saat ini luasan populasi hutan sagu terbesar berada di Papua dan Maluku, meskipun produktivitas tertingginya berada di Riau. Makanan tradisional berbahan dasar pati sagu seperti Papeda masih banyak ditemukan di Papua, begitu pula makanan sejenis Papeda, hanya berbeda penamaannya seperti Kapurung, Sinole, Onyop, Sinonggi masih banyak ditemukan di Maluku dan Sulawesi. Namun, jenis makanan tersebut banyak dikonsumsi oleh generasi tua dan mulai ditinggalkan oleh generasi muda.

 

Ragam pangan masyarakat Indonesia dari jaman dulu sampai sekarang bermacam-macam, mulai yang berasal dari pohon, umbi-umbian, maupun biji-bijian. Namun, dengan adanya program beras untuk orang miskin (Raskin) di era Presiden Soeharto, maka ketergantungan makanan pokok kita sangat tinggi terhadap satu komoditi pangan yaitu beras. Bahkan program pertanian pangan kita sampai saat ini masih terus tergantung pada tiga komoditi pertanian pangan, yaitu: Padi, Jagung, Kedelai atau biasa disingkat dengan sebutan Pajale. Seperti halnya pada saat pembukaan PON XX di Papua, Presiden Jokowi menyempatkan diri untuk mengajak para petani milenial di Papua untuk menanam jagung (IG: @pangan_news.id). Padahal luasan hutan sagu terbesar ada di Papua dari total keseluruhan populasi hutan sagu di Indonesia. Namun, dengan adanya program Pajale, maka masyarakat Papua sampai saat ini makanan utamanya masih dengan beras. Bahkan anak-anak generasi muda sudah tidak mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok, tapi nasi dari beras. Sagu, kebanyakan hanya dikonsumsi oleh generasi tua karena kecintaannya dan adanya ikatan emosional makanan waktu kecil yaitu sagu. Perlu kesadaran bagi kita untuk mengembalikan kecintaan akan sagu sebagai anugerah alam bagi bangsa Indonesia untuk kemakmuran pangan kepada generasi muda, khususnya masyarakat di Papua supaya tidak terputus keberlanjutannya dari generasi tua ke generasi muda penerus bangsa.

 

Sagu, tanaman asli Indonesia yang dulunya menjadi makanan pokok pertama di Indonesia, sekarang menjadi spesies yang kurang dilirik dan kurang dimanfaatkan secara optimum (neglected and underutilized species–NUS). Bahkan menjadi makanan inferior, kalah dengan makanan-makanan kontemporer yang lebih menarik generasi muda. Sebagai tanaman NUS, sagu akan dibutuhkan pada saat negara dalam keadaan emergensi. Seperti halnya pada saat pandemik Covid-19, ketahanan pangan nasional diuji dengan kondisi tersebut, karena wabah melanda di seluruh dunia, tidak ada kegiatan ekspor-impor, semua harus dicukupi dari dalam negeri masing-masing negara. Pada awal pandemik Covid-19, Jend. Doni Monardo, yang pada saat itu manjabat sebagai Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Budi Waseso sebagai Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog), untuk menjaga ketahanan nasional, beliau menekankan bahwa, untuk ketahanan pangan saat itu tidak perlu panik, tenang, kita masih punya cadangan sagu untuk pangan kita. Cadangan pati sagu, pada saat itu menumpuk di Riau dengan jumlah ribuan ton, karena tidak dapat di ekspor ke negara tetangga, Malaysia dan juga ke Jepang. Para petani dan pengrajin sagu merasa semangat dengan terangkatnya sagu kembali menjadi cadangan karbohidrat negeri ini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, sagu kembali dilupakan dan program pemerintah terus berlanjut ke program Pajale dengan dibukanya food estate di beberapa wilayah untuk menanam tanaman hortikultura dan Pajale.

 

Sagu, sebagai tanaman asli Indonesia, memiliki berbagai keunggulan baik dari sisi produktivitas, nutrisi, dan lingkungan. Dari aspek produktivtas, pohon sagu menghasilkan pati sagu kering per pohon sekitar 150-300 kg atau setara 20-40 ton/ha/tahun. Dibandingkan dengan beras, produktivitasnya sekitar 6-12 ton/ha/tahun. Ditinjau dari sisi nutrisi, pati sagu memiliki keunggulan dari pangan lainnya, yaitu: 1. bebas gluten (gluten free) sangat cocok bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), 2. rendah indek glikemik (Gliemic Index-GI), sangat baik dikonsumsi bagi para penderita diabetes, 3. tinggi serat (high resistant starch), bagus dikonsumsi bagi penderita celiac disease atau yang sensitif pencernaannya. Selain itu, sagu juga merupakan bahan pangan organik karena dalam perkebunannya tidak menggunakan bahan kimia, serta dalam proses pengolahannya tidak menggunakan pemutih (bleaching).

 

Nah, dari aspek produktivitas dan nutrisi, sagu telah memiliki beberapa keunggulan, apalagi dari aspek lingkungan. Tanaman pangan sagu, ditinjau dari sisi lingkungan memiliki banyak sekali keunggulan dibandingkan tanaman-tanaman pangan lainnya, yaitu: dapat tumbuh dengan baik di lahan mineral maupun di lahan marjinal, tidak memerlukan pupuk dalam pertumbuhannya, bersifat mengumpulkan air (water catchment), tahan terhadap banjir, tahan terhadap kemarau panjang, tahan terhadap angin kencang, tunasnya tahan terhadap kebakaran, tidak ada serangan hama. Bahkan ulat kumbang yang hidup di batang pohon sagu dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein bagi masyarakat setempat.

 

Karena masyarakat kita sudah terlanjur mencintai nasi dan mie, maka dengan kemajuan teknologi dan inovasi, pati sagu sudah dapat diproduksi menjadi beras sagu (beras analog) dan mie sagu yang rasanya tidak kalah enak dengan nasi dari beras dan mie dari terigu. Jadi tunggu apalagi, untuk ketahanan pangan, alam sudah menyediakan dengan berlimpah, kita yang harus merawat dan memanfaatkannya dengan baik. Karena keunggulan-keunggulan sagu dari aspek produktivitas, nutrisi dan lingkungan, maka di masa perubahan iklim ini dan untuk pangan masa depan maka sagu adalah salah satu solusi ketahanan pangan Bangsa Indonesia. Healthy Sago Food, Healthy Strong Body

 

Selamat hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2021: “Our actions are our future-Better production, better nutrition, a better environment and a better life