143 views Taman Kehati, Transformasi Sawahlunto dari Masa Lalu yang Legam – KEHATI KEHATI

Taman Kehati, Transformasi Sawahlunto dari Masa Lalu yang Legam

  • Date:
    03 Jun 2022
  • Author:
    KEHATI

Sawahlunto. Kota kecil di timur laut kota Padang Sumatera Barat  ini denyutnya tidak lagi seperti dulu. Selama ratusan tahun, Sawahlunto ramai oleh geliat industri tambang batu bara. Setelah batu bara ditinggalkan, Sawahlunto menyisakan luka kerusakan ekosistem di dalamnya. Perlahan, Sawahlunto mulai bangkit.

 

Penambangan batu bara di Sawahlunto di mulai pada tahun 1892, masa kolonial Belanda. Tambang Ombilin. Begitu orang menyebutnya. Nama ini mengacu pada temuan 200 juta ton batu bara oleh geolog Belanda di sepanjang aliran sungai Ombilin yang mengalir di Sawahlunto.

 

Kawasan pedesaan itu kemudian tumbuh menjadi kota tambang yang riuh dengan geliat ekonomi dari “emas hitam”. Setelah Indonesia merdeka, kepemilikan Ombilin dikuasai negara. PT Bukit Asam, perusahaan plat merah, mengelola tambang Ombilin hingga akhirnya berhenti beroperasi karena cadangan batubara di Sawahlunto kian menipis.

 

Pemerintah kota Sawahlunto mencoba menghidupkan kembali roda perekonomian. Kota yang berada di ketinggian bentang alam Bukit Barisan itu kini bertopang pada cerita masa lalu untuk wisatawan. Terowongan bekas galian tambang, bangunan besar bergaya kolonial Belanda, serta pemukiman bekas pekerja tambang menyatu dengan lansekap alam Sawahlunto yang indah.

 

Sawahlunto kini menjadi situs kota tua yang menawan, meski di beberapa tempat masih menyisakan persoalan untuk pemulihan kerusakan alam. Ketika bukit-bukit dihancurkan,  keanekaragaman hayati di bekas kota tambang itu ikut rusak.

 

 

Lorong Item dan Lorong Ijo

 

Keanekaragaman hayati yang hilang itu coba dikembalikan oleh Pemerintah Kota Sawahlunto melalui pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati (taman Kehati).  Gagasan ini muncul untuk mengembalikan atau mengkonservasi ekosistem flora dan fauna endemik di bekas zona pertambangan.

 

Konsep taman Kehati menjadi pilihan karena Sawahlunto ingin memiliki wilayah pencadangan sumber daya alam, seperti tertuang pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 3 Tahun 2012. Nantinya taman tersebut akan ditanami berbagai tumbuhan lokal, endemik dan langka.

 

Pembangunan taman Kehati tahap pertama yang rencananya  dimulai pada 1 Juni 2022  sekaligus menjadi tonggak perubahan paradigma pembangunan kota. Dari kota tambang yang legam, perekonomian Sawahlunto kini berpegang pada prinsip pembangunan berkelanjutan, salah satunya adalah dengan mengembangkan ekowisata.

 

Keberadaan taman Kehati ini akan melengkapi lansekap kota Sawahlunto. PT. Ruang Hijau sebagai pembuat desain taman Kehati menggambarkan konsep taman kehati Sawahlunto yang diilhami dari “Lorong Item” pembangunan lubang tambang masa lalu, menuju “Lorong Ijo”, tajuk pepohonan di taman sebagai simbol transformasi pembangunan lestari.

 

Lorong Item yang dimaksud mengacu pada keberadaan pusat kota Sawahlunto yang sekarang sudah ada. Di pusat kota, yang dikenal sebagai situs kota tua Sawahlunto, bangunan masa lalu difungsikan kembali sebagai museum, hotel atau kafe serta fungsi ekonomi lainnya.

 

Ada lubang Mbah Suro, hotel Ombilin, museum kereta api Sawahlunto, museum Goedang Ranseom, gedung pusat kebudayaan, dan museum tambang batu bara Ombilin. Semua menyatu dengan kehidupan masyarakat Sawahlunto yang sadar akan kegiatan ekowisata. Dari Lorong Item inilah, Sawahlunto diakui sebagai situs warisan dunia UNESCO.

 

Adapun Lorong Ijo merupakan kawasan hijau yang akan dikembangkan di daerah pemekaran Sawahlunto, yaitu daerah Taman Kandis.  “Lorong Ijo melambangkan Taman Kehati Sawahlunto sebagai wisata area pasca tambang yang ramah lingkungan dan lebih asri berwawasan pendidikan dan budaya,” kata Manajer Ekosistem Hutan Yayasan Kehati  Rio R. Bunet.

 

Taman Kehati akan dibangun di atas kawasan seluas 24,28 hektar. Kawasan itu sebelumnya merupakan lahan bekas reklamasi tambang yang dilakukan PT Bukit Asam. Kehadiran taman Kehati ini melengkapi kawasan wisata Kandis yang areanya berdekatan di situ.

 

Pemerintah kota Sawahlunto memproyeksikan Kandis sebagai pusat kegiatan pariwisata yang akan menjadi salah satu sumber pendapatan utama daerah. Kehadiran Kandis diharapkan mampu menyerap tenaga kerja serta membuka peluang bagi keterlibatan masyarakat di sekitar taman.

 

Yayasan KEHATI dan Pemerintah Kota Sawahlunto sepakat memberi nama kawasan pencadangan sumber daya alam itu sebagai Taman Kehati Emil Salim. Emil (91 tahun ) merupakan tokoh lingkungan hidup internasional yang juga pendiri Yayasan KEHATI, lembaga di bidang pelestarian lingkungan. Emil juga pernah menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup (1978-1993).

 

 

Tantangan di Areal Bekas Tambang

 

Membangun taman Kehati di areal bekas tambang tidak mudah.  Pasalnya, tingkat kepadatan tanah tinggi dan kurang subur karena unsur hara di dalam tanah rendah. Setelah tambang tidak aktif perlu dilakukan rehabilitasi lahan terlebih dahulu.

 

Rio mengatakan, kontur tanah sangat dipengaruhi oleh aktivitas penambangan sebelumnya. Terlebih ada danau bekas galian. “Sebenarnya di lokasi itu sudah direhabilitasi oleh pemegang izin tambang PT Bukit Asam. Tujuan rehabilitasi memang mengembalikan fungsi tanah dengan penghijauan. Sehingga pohon yang ditanam belum mengikuti kaidah koleksi tumbuhan taman Kehati dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” kata Rio.

 

Yayasan KEHATI melibatkan konsultan ahli vegetasi yang berasal  dari LIPI (sekarang Badan Riset dan Inovasi-BRIN), untuk membangun taman Kehati. Tim ini melakukan survei dan meneliti vegetasi di sekitar area yang akan dijadikan lokasi Taman Kehati Emil Salim.

 

Tim ahli menelusuri wilayah di sekitar Kota Sawahlunto untuk mencari spesies tanaman apa saja yang khas Sawahlunto. Tim menelusuri daerah Kolok, Rantih, Kubang, Taratah, Bancah, Batu Ruciang, dan wilayah Bukit Kandis. Hasilnya, diperoleh data 96 spesies lokal Sawahlunto yang merupakan anggota dari 86 genus dan 48 famili.

 

Beberapa spesies lokal tumbuh alami sebagai tumbuhan pioneer di wilayah tersebut. Tumbuhan pioneer  ini bisa tumbuh dalam segala kondisi, di antaranya kelayu hitam (Arytera littoralis), Paku hijau (Blechnum orientale), Kanderi (Bridelia monoica), dan lain-lain. Spesies pioneer adalah spesies kuat yang pertama kali tumbuh di lingkungan tandus. Spesies ini juga bisa tumbuh di ekosistem mapan dengan keanekaragaman hayati yang telah terganggu.

 

Tim ahli juga menemukan spesies pohon hutan seperti pohon kayu musang (Alangium ferrugineum), nyamplung (Calophyllum inophyllum), dan asam kandis (Garcinia xanthocymus). Umumnya spesies yang tumbuh spontan tanpa ditanam itu merupakan spesies asli di wilayah tersebut. Spesies-spesies yang ditemukan akan diperbanyak melalui kebun bibit di taman Kehati.

 

Spesies tanaman yang akan ditanam di Taman Kehati Emil Salim ini mengacu pada aturan, yaitu Lampiran Permen LH No 3 tahun 2012 dan SK MenLHK No. 1272/Menlhk/Setjen/Pla.3/12/2021 tentang penetapan karakteristik bentang alam dan vegetasi alami. Taman Kehati Emil Salim ini paling sedikit akan menampung sekitar 9.600 hingga 10.000 pohon. Luasan zona alam di taman tersebut nantinya lebih banyak diperuntukkan bagi pendidikan, kebudayaan dan kegiatan ekonomi lokal.

 

Penguatan kelembagaan pengelola taman kehati diperlukan agar taman Kehati yang dibangun bisa berkelanjutan dan memberi dampak pada masyarakat. “Jangan sampai nanti hanya dibangun, setelah itu terlantar. Dengan penguatan kelembagaan yang matang, taman Kehati dapat terus dikelola dan mendapat dukungan serta komitmen para pihak,” ungkap Rio.

 

Penguatan kelembagaan ini masih terus dilakukan. Selain melibatkan masyarakat, kata Rio, juga perlu memasukkan berbagai pihak dalam kelembagaan tersebut. Penguatan kelembagaan ini nantinya berhubungan dengan pendanaan pengelolaan taman Kehati.

 

Yayasan KEHATI berupaya mengoptimalkan dukungan dan komitmen multipihak dan lintas sektor pemerintah, termasuk melibatkan masyarakat dalam pengelolaan taman Kehati. Potensi penggalangan sumber daya lain untuk pengelolaan parsitipatif dan berkelanjutan sangat dimungkinkan. (Penulis : Endang Purwanti/Lusiana Indriasari)